Postingan

CÉK AING, KOPI TÉH EUWEUH, EUWEUH

 CÉK AING, KOPI TÉH EUWEUH, EUWEUH Ku N. Mimin Rukmini Aya-aya waé tingkah polah Si Iteung. Hiji waktu, anjeunna kadatangan tamu. Salakina ngagorowok ménta Si Iteung sangkan nyieun kopi keur ngajamu tamu. Ari Si Iteung mah teu némbalan, da puguh di dapur geus euweuh kopi. Si Iteung api-api teu ngadéngé kana  panitah salakina. Manéhna jongjon kukumbah bari dina haténa ngagerentes, ambek kacida lantaran keur teu boga kopi. Kabeneran, tamu ménta ijin rék ka jamban. Ari Si Iteung mah nyangka éta téh salakina nu rék ka dapur. Teu kungsi lila, Si Iteung nguliwed di tukangeun panto. Barang panto bray dibuka,  ceuli tamu  ujug-ujug dijiwir ku Si Iteung bari pok nyarita, "Cék aing, kopi téh euweuh, euweuh!" Atuh tamu ngagorowok kagét. Si Iteung colohok bari ngagerentes, "Beu, sugan tèh salaki aing!" Pangandaran, 5 Juli 2026 Diadaprasi tina carita salah sahiji Penceramah dina Reuni Akbar KBIH H2QM. 

SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN

 SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN Tak terasa usia Mamah kini menginjak 76 tahun. Usia yang boleh dikatakan sudah lanjut, bahkan renta. Memang demikianlah kenyataannya. Saat liburan seperti ini, kebanyakan orang tua ingin selalu turut serta bersama anak-anaknya karena memang sudah terbiasa. Demikian pula dengan Mamah, ke mana pun kami pergi berlibur,  beliau tak mau ketinggalan. Seperti yang terjadi hari ini, 27 Juni 2026. Mamah ikut pulang kampung ke Garut, kampung halaman suami. Hampir setiap kali bertemu atau saya pulang ke Purwakarta, Mamah selalu berkata bahwa jika saya pulang ke Garut, beliau ingin ikut. Oleh karena itu, kami rela memutar arah terlebih dahulu. Dari rumah di wilayah Cililin menuju Purwakarta untuk menjemput Mamah, kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Garut. Sehari sebelumnya, kami berangkat dari rumah pukul 10.30 dan tiba di rumah Mamah sekitar pukul 13.00. Setelah beristirahat sejenak, pukul 14.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ...

MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA

 MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA Oleh N. Mimin Rukmini Suatu waktu, ketika sedang berbelanja di warung tetangga, seorang ibu lewat begitu saja tanpa mengucapkan punten, permisi, atau minimal tersenyum. Pada kesempatan lain, saya menyuruh beberapa anak di sekolah untuk memasukkan kursi yang berada di depan kelas ke dalam kelas. Ada yang melaksanakannya, ada pula yang tidak. Sementara itu, saat saya sedang menyapu halaman rumah, beberapa gadis lewat dan sambil tersenyum mengucapkan "punten". Punten berarti permisi. Dari tiga contoh tersebut, terlihat bahwa karakter sopan santun dan kepedulian masih memprihatinkan. Di antara perilaku positif dan negatif, terkadang perilaku negatif lebih sering tampak.  Era digital yang ditandai dengan begitu cepatnya arus informasi melalui pemanfaatan telepon pintar (HP), misalnya, memungkinkan seseorang menjadi lebih cerdas atau menghasilkan usaha yang sukses. Tanda lain pada era ini adalah ketika orang-orang be...

BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA

  BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA Kebiasaan yang tertanam menjadi karakter sungguh harus dipaksakan. Saya selalu teringat bagaimana ketika orang tua selalu menyuruh membantu Mamah atau Bapak. Masih terngiang-ngiang pula, ketika saya  kelas 3 SD disuruh menyiangi rumput di halaman rumah. Saya menolak perintah Bapak. Lantas Bapak membawa sapu lidi sepertinya mau dipukulkan, saya berlari kabur seharian,  tinggal di rumah tetangga. Saya pulang sore hari.  Entahlah, sejak peristiwa itu saya tidak ingat lagi bagaimana saya, adik, dan kakak dalam proses membantu orang tua. Yang jelas, dari paksaan, demi paksaan membantu orang tua dan kerja rumah tangga sederhana, akhirnya menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah saya menjadi senang ketika membantu orang tua, atau senang berkebun karena pada mulanya selalu dipaksa oleh orang tua.  Demikian pula halnya dengan penanaman kegiatan literasi pada siswa. Penumbuhan karakter cinta literasi di sekolah sejak awal, sejatinya mula...

MELEMPAR JUMROH

 MELEMPAR JUMROH  Setelah salat magrib waktu itu, kami rombongan naik bus ke Muzdalifah. Seperti yang sudah terlihat sebelum ke Arafah, hamparan sajadah dan karpet sudah terbentang di pasir area terbuka. Subhanallah area pegunungan batu yang luas. Pak Pembimbing Haji mengemukakan bahwa  setelah Wukuf di Arafah, bada magrib kita akan mabit di Muzdalifah. Ya, saat menuliskan kembali  cerita dari wukuf Arofah dan mabit di Muzdalifah, lantas pagi harinya siap melempar jumroh, saya merasa diingatkan oleh Prof Naim yang tadi siang sedang siap-siap pergi melempar jumroh. Luar biasa! Setelah mabit di Muzdalifah seperti telah saya paparkan pada tulisan sebelumnya, pagi hari setelah subuh kami  satu rombongan KBIH dan peserta haji lain, beranjak menuju jalan raya. Berjalan beriringan di antara ribuan jamaah haji, dengan maksud menunggu bus untuk pergi ke Jamarot Mekah untuk melempar jumroh. Lama sekali menunggu bus. Tak ada satu pun bus yang kosong. Itu pun jarang sekali ...

PAk Camat yang Purnatugas

 Purnatugas hanya soal dinas Pemimpin tuntas tetap di hati dan pas Sepak terjang Pak Camat yang hebat Sungguh membuat kita kuat Sungguh membuat kita semangat Pedih Pak Camat semakin kita buktikan untuk meraih Duka Pak Camat semakin kita sukses kinerja Pak Camat lebih dari seorang Kadisdik Pemimpin pendidikan juga masyarakat Purna tugas hanya soal sekat administrasi Inspirasi Pak Camat akan terus memotivasi  Dedikasi melangit Pada qolbu  Torehkan du'a Bahagiakan Pak Camat Istanakan hidup di dunia dan akhirat kelak Hanya soal waktu, pemimpin Kami tetap Pak Camat Hebat. Cihampelas, 29 Mei 2026 🙏😭 Duka kmh bet ngeclak ci Soca

KURBAN SAPI VERSUS KURBAN SAPU (Pentigraf)

 KURBAN SAPI VERSUS KURBAN SAPU Sakumaha biasa mangsana libur atawa hari besar Islam, Iteung sok balik ka lembur. Pon Kitu deui mangsa kurban poe ieu. Iteung balik Jeung salaki bari mawa oleh-oleh saayana.  Lantaran Iteung ngilu kurban, di Imah nujadi indung geus nyampakeun daging  kurban. Daging èta dipangmawakeun ku lanceukna,  ti  Bibi nu  motong atawa panitia  kurban. "Htr nuhun A!  Mantap eun!" Panuhun Iteung ka A Maman lanceukna dina telepon.  Iteung jeung salakina  ngahaja ti Imah geus mawa oleh-oleh keur nu di lembur. Biasana Mun ka lembur sok meuli wajit. Tah mangsa ayeuna mah oleh-oleh teh nyaèta sapu kawis  genep siki. Salaki Iteung nanya ka Iteung, yen kunaon bet mawa sapu. Iteung nèmbal pajar teh baturmah kurban sapi, nya urangmah qurban sapu. Cèk salakina ditembal deui, atuh qurban sapi versus qurban sapu, Iteung. Beu! Cag ah! Cihampelas, 28 Mei 2028.  Balik Qurban TI lembur