Postingan

Pentigraf, Yang Berbunyi dan Yang Menggetarkan Kaca

 Yang Berbunyi dan Yang Menggetarkan Kaca Jumat malam, 4 September, pukul 00.07, tatkala terbangun bunyi itu masih terdengar seperti orang memukul-mukulkan sesuatu di atas atap cor rumah, tetapi seolah jauh sekali. Sementara kaca rumah terus bergetar. Saya melihat lampu gantung, tetapi diam tidak berayun. Jika ada gempa biasanya kaca bergetar, dan lampu gantung berayun.  Saya terus beranjak mencari penyebab getaran dan bunyi itu, sembari beristighfar, saya mencubit tangan sendiri apa saya mimpi atau keadaan yang sesungguhnya. Saya tengok kamar sebelah, kalau-kalau ada orang jahat. Bersyukur setelah dilihat ternyata aman. Saya bangunkan suami pula. Suami pun  merasakan hal yang sama, mendengar bunyi dan getaran kaca yang terus menerus. Pada akhirnya saya lanjut berbaring dengan terus berdoa, "Ya, Alloh lindungilah kami! Ada apa ini?" Sampai-sampai baru tersadar menjelang azan Subuh. Alhamdulillah, suara misteri itu, sudah tak ada. Apa hendak dikata, ternyata bunyi dan geta...

Ketika Sinergi Antarelemen Teriris oleh Kebijakan

 Ketika Sinergi Antarelemen Teriris oleh Kebijakan Oleh N. Mimin Rukmini Kepala SMP Negeri 3 Cililin Saat melihat sekelompok burung terbang di angkasa, tampak mereka beriringan dengan tenang tanpa saling mendahului. Mereka kompak bergerak menuju arah yang sama. Demikian pula dalam kinerja kita di satuan pendidikan maupun dunia pendidikan pada umumnya. Alangkah bahagianya ketika antarelemen bekerja saling mendukung dan bersatu padu tanpa selalu dibayangi hubungan birokratis antara atasan dan bawahan. Saya maksudkan bahwa antarelemen, baik di unsur dinas maupun di satuan pendidikan itu sendiri, bekerja sebagai mitra dengan tetap berpedoman pada regulasi dan kebijakan yang berlaku. Sinergi sesungguhnya dimulai dari ruang kelas. Secara konkret, dalam pembelajaran sudah bukan zamannya lagi guru hanya menyuruh dan menempatkan murid sebagai objek pembelajaran. Murid hanya diminta duduk, diam, dan mendengar. Sebaliknya, guru sejatinya menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran. Guru ber...

TMBB: KETIKA MEMBACA TERIKAT KONTRAK KERJA

  TMBB: KETIKA MEMBACA TERIKAT KONTRAK KERJA Kupu-Kupu di Dalam Buku Ketika duduk di stasiun bus, di gerbong kereta api, di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa, kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku, dan aku bertanya, di negeri mana gerangan aku sekarang.... Cuplikan puisi karya Taufiq Ismail di atas sungguh mendeskripsikan betapa lemahnya kebiasaan membaca bangsa kita. Lebih jauh lagi, kondisi tersebut tercermin pada kemampuan literasi, bahkan numerasi, sebagaimana tampak dalam Rapor Pendidikan kita. Telah banyak upaya, program, dan regulasi pemerintah yang berkaitan dengan literasi dan numerasi. Demikian pula implementasinya, khususnya oleh satuan pendidikan, telah dilaksanakan secara masif, salah satunya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Namun, hasil dari berbagai kegiatan tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Tidak perlu berkecil hati. GLS merupakan bagian dari upaya menumbuhkan karakter gemar membaca. Yang namanya penu...

CÉK AING, KOPI TÉH EUWEUH, EUWEUH

 CÉK AING, KOPI TÉH EUWEUH, EUWEUH Ku N. Mimin Rukmini Aya-aya waé tingkah polah Si Iteung. Hiji waktu, anjeunna kadatangan tamu. Salakina ngagorowok ménta Si Iteung sangkan nyieun kopi keur ngajamu tamu. Ari Si Iteung mah teu némbalan, da puguh di dapur geus euweuh kopi. Si Iteung api-api teu ngadéngé kana  panitah salakina. Manéhna jongjon kukumbah bari dina haténa ngagerentes, ambek kacida lantaran keur teu boga kopi. Kabeneran, tamu ménta ijin rék ka jamban. Ari Si Iteung mah nyangka éta téh salakina nu rék ka dapur. Teu kungsi lila, Si Iteung nguliwed di tukangeun panto. Barang panto bray dibuka,  ceuli tamu  ujug-ujug dijiwir ku Si Iteung bari pok nyarita, "Cék aing, kopi téh euweuh, euweuh!" Atuh tamu ngagorowok kagét. Si Iteung colohok bari ngagerentes, "Beu, sugan tèh salaki aing!" Pangandaran, 5 Juli 2026 Diadaprasi tina carita salah sahiji Penceramah dina Reuni Akbar KBIH H2QM. 

SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN

 SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN Tak terasa usia Mamah kini menginjak 76 tahun. Usia yang boleh dikatakan sudah lanjut, bahkan renta. Memang demikianlah kenyataannya. Saat liburan seperti ini, kebanyakan orang tua ingin selalu turut serta bersama anak-anaknya karena memang sudah terbiasa. Demikian pula dengan Mamah, ke mana pun kami pergi berlibur,  beliau tak mau ketinggalan. Seperti yang terjadi hari ini, 27 Juni 2026. Mamah ikut pulang kampung ke Garut, kampung halaman suami. Hampir setiap kali bertemu atau saya pulang ke Purwakarta, Mamah selalu berkata bahwa jika saya pulang ke Garut, beliau ingin ikut. Oleh karena itu, kami rela memutar arah terlebih dahulu. Dari rumah di wilayah Cililin menuju Purwakarta untuk menjemput Mamah, kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Garut. Sehari sebelumnya, kami berangkat dari rumah pukul 10.30 dan tiba di rumah Mamah sekitar pukul 13.00. Setelah beristirahat sejenak, pukul 14.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ...

MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA

 MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA Oleh N. Mimin Rukmini Suatu waktu, ketika sedang berbelanja di warung tetangga, seorang ibu lewat begitu saja tanpa mengucapkan punten, permisi, atau minimal tersenyum. Pada kesempatan lain, saya menyuruh beberapa anak di sekolah untuk memasukkan kursi yang berada di depan kelas ke dalam kelas. Ada yang melaksanakannya, ada pula yang tidak. Sementara itu, saat saya sedang menyapu halaman rumah, beberapa gadis lewat dan sambil tersenyum mengucapkan "punten". Punten berarti permisi. Dari tiga contoh tersebut, terlihat bahwa karakter sopan santun dan kepedulian masih memprihatinkan. Di antara perilaku positif dan negatif, terkadang perilaku negatif lebih sering tampak.  Era digital yang ditandai dengan begitu cepatnya arus informasi melalui pemanfaatan telepon pintar (HP), misalnya, memungkinkan seseorang menjadi lebih cerdas atau menghasilkan usaha yang sukses. Tanda lain pada era ini adalah ketika orang-orang be...

BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA

  BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA Kebiasaan yang tertanam menjadi karakter sungguh harus dipaksakan. Saya selalu teringat bagaimana ketika orang tua selalu menyuruh membantu Mamah atau Bapak. Masih terngiang-ngiang pula, ketika saya  kelas 3 SD disuruh menyiangi rumput di halaman rumah. Saya menolak perintah Bapak. Lantas Bapak membawa sapu lidi sepertinya mau dipukulkan, saya berlari kabur seharian,  tinggal di rumah tetangga. Saya pulang sore hari.  Entahlah, sejak peristiwa itu saya tidak ingat lagi bagaimana saya, adik, dan kakak dalam proses membantu orang tua. Yang jelas, dari paksaan, demi paksaan membantu orang tua dan kerja rumah tangga sederhana, akhirnya menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah saya menjadi senang ketika membantu orang tua, atau senang berkebun karena pada mulanya selalu dipaksa oleh orang tua.  Demikian pula halnya dengan penanaman kegiatan literasi pada siswa. Penumbuhan karakter cinta literasi di sekolah sejak awal, sejatinya mula...