Postingan

MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA

 MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA Oleh N. Mimin Rukmini Suatu waktu, ketika sedang berbelanja di warung tetangga, seorang ibu lewat begitu saja tanpa mengucapkan punten, permisi, atau minimal tersenyum. Pada kesempatan lain, saya menyuruh beberapa anak di sekolah untuk memasukkan kursi yang berada di depan kelas ke dalam kelas. Ada yang melaksanakannya, ada pula yang tidak. Sementara itu, saat saya sedang menyapu halaman rumah, beberapa gadis lewat dan sambil tersenyum mengucapkan "punten". Punten berarti permisi. Dari tiga contoh tersebut, terlihat bahwa karakter sopan santun dan kepedulian masih memprihatinkan. Di antara perilaku positif dan negatif, terkadang perilaku negatif lebih sering tampak.  Era digital yang ditandai dengan begitu cepatnya arus informasi melalui pemanfaatan telepon pintar (HP), misalnya, memungkinkan seseorang menjadi lebih cerdas atau menghasilkan usaha yang sukses. Tanda lain pada era ini adalah ketika orang-orang be...

BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA

  BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA Kebiasaan yang tertanam menjadi karakter sungguh harus dipaksakan. Saya selalu teringat bagaimana ketika orang tua selalu menyuruh membantu Mamah atau Bapak. Masih terngiang-ngiang pula, ketika saya  kelas 3 SD disuruh menyiangi rumput di halaman rumah. Saya menolak perintah Bapak. Lantas Bapak membawa sapu lidi sepertinya mau dipukulkan, saya berlari kabur seharian,  tinggal di rumah tetangga. Saya pulang sore hari.  Entahlah, sejak peristiwa itu saya tidak ingat lagi bagaimana saya, adik, dan kakak dalam proses membantu orang tua. Yang jelas, dari paksaan, demi paksaan membantu orang tua dan kerja rumah tangga sederhana, akhirnya menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah saya menjadi senang ketika membantu orang tua, atau senang berkebun karena pada mulanya selalu dipaksa oleh orang tua.  Demikian pula halnya dengan penanaman kegiatan literasi pada siswa. Penumbuhan karakter cinta literasi di sekolah sejak awal, sejatinya mula...

MELEMPAR JUMROH

 MELEMPAR JUMROH  Setelah salat magrib waktu itu, kami rombongan naik bus ke Muzdalifah. Seperti yang sudah terlihat sebelum ke Arafah, hamparan sajadah dan karpet sudah terbentang di pasir area terbuka. Subhanallah area pegunungan batu yang luas. Pak Pembimbing Haji mengemukakan bahwa  setelah Wukuf di Arafah, bada magrib kita akan mabit di Muzdalifah. Ya, saat menuliskan kembali  cerita dari wukuf Arofah dan mabit di Muzdalifah, lantas pagi harinya siap melempar jumroh, saya merasa diingatkan oleh Prof Naim yang tadi siang sedang siap-siap pergi melempar jumroh. Luar biasa! Setelah mabit di Muzdalifah seperti telah saya paparkan pada tulisan sebelumnya, pagi hari setelah subuh kami  satu rombongan KBIH dan peserta haji lain, beranjak menuju jalan raya. Berjalan beriringan di antara ribuan jamaah haji, dengan maksud menunggu bus untuk pergi ke Jamarot Mekah untuk melempar jumroh. Lama sekali menunggu bus. Tak ada satu pun bus yang kosong. Itu pun jarang sekali ...

PAk Camat yang Purnatugas

 Purnatugas hanya soal dinas Pemimpin tuntas tetap di hati dan pas Sepak terjang Pak Camat yang hebat Sungguh membuat kita kuat Sungguh membuat kita semangat Pedih Pak Camat semakin kita buktikan untuk meraih Duka Pak Camat semakin kita sukses kinerja Pak Camat lebih dari seorang Kadisdik Pemimpin pendidikan juga masyarakat Purna tugas hanya soal sekat administrasi Inspirasi Pak Camat akan terus memotivasi  Dedikasi melangit Pada qolbu  Torehkan du'a Bahagiakan Pak Camat Istanakan hidup di dunia dan akhirat kelak Hanya soal waktu, pemimpin Kami tetap Pak Camat Hebat. Cihampelas, 29 Mei 2026 🙏😭 Duka kmh bet ngeclak ci Soca

KURBAN SAPI VERSUS KURBAN SAPU (Pentigraf)

 KURBAN SAPI VERSUS KURBAN SAPU Sakumaha biasa mangsana libur atawa hari besar Islam, Iteung sok balik ka lembur. Pon Kitu deui mangsa kurban poe ieu. Iteung balik Jeung salaki bari mawa oleh-oleh saayana.  Lantaran Iteung ngilu kurban, di Imah nujadi indung geus nyampakeun daging  kurban. Daging èta dipangmawakeun ku lanceukna,  ti  Bibi nu  motong atawa panitia  kurban. "Htr nuhun A!  Mantap eun!" Panuhun Iteung ka A Maman lanceukna dina telepon.  Iteung jeung salakina  ngahaja ti Imah geus mawa oleh-oleh keur nu di lembur. Biasana Mun ka lembur sok meuli wajit. Tah mangsa ayeuna mah oleh-oleh teh nyaèta sapu kawis  genep siki. Salaki Iteung nanya ka Iteung, yen kunaon bet mawa sapu. Iteung nèmbal pajar teh baturmah kurban sapi, nya urangmah qurban sapu. Cèk salakina ditembal deui, atuh qurban sapi versus qurban sapu, Iteung. Beu! Cag ah! Cihampelas, 28 Mei 2028.  Balik Qurban TI lembur

SELALU SAJA BERTANYA

 SELALU SAJA BERTANYA Ibarat mobil tua, semakin tua mobil semakin aus dan rapuh segala peralatan nya. Manusiawi pula jika orang semakin tua, ya ibu/ bapak kita semakin rapuh raganya, rapuh juga pemikirannya. Pemikiran orang semakin tua kembali seperti anak-anak. Apapun keinginan mereka harus cepat dipenuhi. Jika belum terpenuhi, terus saja nagih dan menanyakan apa yang diinginkan.  Usia ibu saya memasuki usia 78 tahun. Naah, seperti nya ibu pun sudah kembali seperti anak-anak lagi. Kalau satu waktu saya janji mau pulang ke rumah ibu, dipastikan di hari itu terus bertanya, "kapan pulang?" Sampai-sampai mau makan pun terkadang menuggu saya datang. Oleh karena itu betul menurut agama yang mewajibkan anak untuk selalu memuliakan orang tua, baik saat mereka masih kuat maupun sudah ujur Naah, begitulah orang tua. Ibu semakin layu, semakin lesu. Secara fisik Ibu layu, lesu, tapi ya Alloh jangan ambil kelayuan Ibu dari psikisnya. Moga Engkau tetap memberi hidayah mu, agar Ibu tetap m...

KARTINI ERA DIGITAL PEREMPUAN HEBAT DAN BERMARTABAT

 KARTINI ERA DIGITAL PEREMPUAN HEBAT DAN BERMARTABAT Oleh N. Mimin Rukmini Kepala SMP Negeri 3 Cililin Peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi bagaimana keberadaan kiprah dan martabat perempuan Era Digital saat ini. Sebut saja Kartini Era Digital karena berharap perempuan saat ini memiliki pemikiran yang selaras dengan nilai-nilai pemikiran RA Kartini saat itu. Pemikiran RA Kartini sekitar tahun 1900-an jauh melampaui batas pemikiran perempuan zaman Hindia Belanda saat itu. Hal tersebut dibuktikan dengan surat-surat RA Kartini kepada sahabat- sahabatnya di Belanda, ikhwal cita-cita dan harapan bagaimana perempuan Jawa ingin ada kesejajaran dengan kaum laki-laki dalam hal pendidikan dan kekesetaraan kerja atau pun kehidupan.  Pada akhirnya surat-surat RA Kartini walau Beliau sudah wafat tahun 1904, dikumpulkan menjadi buku dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang".  Makna dari judul tersebut menandakan setelah adanya kegelapan bagaimana RA Kartini berjuang tent...