BUDAYA PAPAJAR TINGKATKAN UKHUWAH DAN KINERJA DI SATUAN PENDIDIKAN


 BUDAYA PAPAJAR TINGKATKAN UKHUWAH DAN KINERJA DI SATUAN PENDIDIKAN


Tuntutan Administrasi guru, tendik, dan tenaga kependidikan, serta masalah-masalah  yang terjadi di satuan pendidikan menjadi langganan menu harian. Bukan menu MBG yang menyuplay gizi murid melainkan menu kinerja harian yang melelahkan. Ups! Jangan anggap negatif permasalahan yang terjadi, justru itulah kinerja harian yang real di lapangan, membutuhkan perjuangan, kesabaran, kalaupun memang melelahkan. Penulis yakin! Guru sejati selamanya tentu menyadari apa pun beban yang menerpa diri. 


Tak terkecuali beban yang diemban di satuan pendidikan datang silih berganti seiiring kebijaksanaan yang ada. Lelah, penat, bosan, yang dirasakan penulis dan rekan tendik setelah bulan kedua memasuki semester genap dan menjelang ibadah saum Ramadan, tentulah kami rasakan. Oleh karena itu, dengan prinsip nenabung di kolam ikan sisa anggaran selama kegiatan setahun, pada akhirnya kami bisa berkumpul sambil  rapat dinas dalam acara papajar. 


Papajar menurut Wikipedia Bahasa Indonesia adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sunda di Jawa Barat dengan berkumpul dan makan bersama beberapa hari sebelum masuknya bulan Ramadan. Artinya, melalui papajar inilah penulis dan rekan kinerja berkumpul dan makan bersama sembari bersenda gurau untuk menghilangkan rasa penat, dan lelah setelah beberapa waktu berada dalam kegiatan rutinitas harian. 


Banyak ragam acara bersamaan dengan kegiatan papajar ini. Seperti, Kamis 12 Februari lalu Kami melaksanakan papajar di sebuah rumah makan murah. Walau makan seaadanya, sungguh keakraban, kegembiraan, dan senda gurau di antara kami sangat luar biasa🙏. 


Dalam papajar itu penulis sisipkan rapat terbatas, yakni membahas persiapan teknik kegiatan sanlat ramadan, penguatan kembali kegiatan kokulikuler, dan persiapan supervisi akademik atau observasi pembelanjaran di kelas. Pelaksanaan observasi demikian terkadang guru saling menunjuk satu sama lain. 


Oleh karena itu, untuk menjadwalkan kegiatan observasi kelas, selelah  makan, masih dalam suasana meja makan berantakan. Sie kurikulum membuat kocokan seperti arisan. Semua guru diundi mana yang lebih dulu dijadwalkan dan mana yang kemudian kebagian jadwdl observasi. Kegiatan seperti arisan ini menambah keceriaan dan keakraban di antara kami. Mau tidak mau dengan urutan jadwal observasi tersebut guru mesti menyiapkan rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan. 


Tidak sampai di situ saja, setelah turup doa, papajar diakhiri dengan agenda foto bersama dan musafahah untuk saling memaafkan. Papajar menjadi ajang silaturahmi, senda gurau, mengikat rasa keakraban, juga persaudaraan. Semoga!


Cililin, Awal Saum, 18 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!