KULIT PISANG DAN SUARA TANPA RAGA
KULIT PISANG DAN SUARA TANPA RAGA
Oleh N. Mimin Rukmini
Elis dan Nina baru saja keluar dari halaman sekolah. Mereka terlihat ceria.
"Lis, tadi di kelas pelajaran IPA seru banget!"
"Seru apaan tuh?" tanya Elis.
"Bu Santi mengajarkan cara membuat enzim pupuk organik."
"Ajarin aku dong, Nin!"
"Ih, kelas kamu juga nanti kebagian, hari Jumat, kan, ya? Kamu ada pelajaran IPA?"
"Iya, sih," jawab Elis pelan.
Elis dan Nina, sembari bercerita, terus saja melangkahkan kaki menuju rumah mereka. Perjalanan dari sekolah ke rumah memakan waktu sekitar satu jam.
Tiba-tiba, dari seberang jalan terdengar suara, "Tolong, Nak, tolong!"
Elis dan Nina kaget. Tidak biasanya ada suara minta tolong.
Elis dan Nina menengok ke kiri, menengok ke kanan, melihat ke atas, juga ke bawah.
"Nina, tuh di bawah pohon ada kantong kresek hitam. Suara itu seperti dari dalam kresek," seru Elis sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Nina.
"Wuuuih, serem!" Nina hampir saja berlari.
Namun, tangan Nina ditarik Elis hingga Nina hampir saja terjatuh.
Di sela itu pula, terdengar lagi suara yang semakin jelas dari arah kantong kresek tadi.
Nina dan Elis mengendap-endap mendekati kantong kresek. Keduanya antara sadar dan tidak sadar mendekati kantong itu.
"Nak, cepatlah tolong kami!"
Elis dan Nina semakin terguncang hatinya. Tubuh mereka tampak semakin gemetar saat berusaha mendekati kantong kresek itu.
Tiba-tiba, Elis berbalik arah.
"Aku takut, Nin."
Namun, Nina sigap memegang tangan Elis dan mengajaknya mendekati kantong kresek.
Akhirnya, keduanya sampai di hadapan kantong kresek.
"Bukalah kantong ini, Nak!"
Nina dan Elis serempak menyodorkan tangan mereka, memegang, lalu membuka kantong kresek. Sepintas terlihat di dalamnya kulit pisang dan sampah lain yang hampir membusuk.
"Prak!"
Tiba-tiba terdengar suara keras. Kantong kresek meledak seperti kaca pecah.
Saat itu pula, Elis dan Nina terbawa ledakan pecahan kantong kresek tersebut.
Mereka terlempar dan tersedot oleh kekuatan gaib. Elis dan Nina tidak sadarkan diri.
Ketika tersadar, Elis dan Nina kaget luar biasa.
"Nina, kita ada di mana?" kata Elis.
"Ya, sepertinya istana ini, Lis," jawab Nina.
"Bagaimana kita bisa pulang? Tolooong!" teriak Elis dan Nina. Keduanya berteriak sambil menangis.
Di tempat seperti istana itu, mereka tersadar sedang berada di atas sofa. Mereka disuguhi makanan dan minuman yang tampak lezat.
"Kalian jangan menangis, Nak! Tenanglah! Lebih baik kalian makan hidangan di atas meja itu!"
Suara tanpa raga itu terdengar beberapa kali. Suara ada, tetapi tak terlihat benda atau orang satu pun di dalam ruangan istana.
Akhirnya, Elis dan Nina berusaha menenangkan diri sambil mengingat-ingat apa yang telah dan sedang terjadi.
"Kamu siapa? Mengapa kami dibawa ke tempat ini?" tanya mereka kepada suara tanpa raga.
"Keluarlah! Kami ingin pulang," tambah Elis dan Nina.
Beberapa saat tak ada suara lagi.
Karena lapar sepulang sekolah, Elis dan Nina akhirnya, walau ragu, menyantap makanan, minuman, serta buah-buahan yang tersaji di meja dekat sofa. Mereka lahap menyantap hidangan itu, seolah lupa pada apa yang telah terjadi.
"Bagaimana, Kawan, enak makanannya?"
Sontak Elis dan Nina kaget. Makanan yang sedang mereka kunyah terhenti di rongga mulut.
"Iya, ya, ya... enak makanannya."
"Terima kasih!" ucap mereka serempak.
"Syukur, kalau memang makanan itu kalian sukai. Saya bangga pada kalian! Kalian anak-anak baik yang mau menolong kami, kulit pisang dalam kresek."
Usai makan, Nina dan Elis diajak Suara Tanpa Raga mengelilingi istana.
"Suara, indah sekali, ya, taman istana ini. Bunga-bunganya bermekaran, tanaman pun subur," seru Nina.
Nina menambahkan, "Mengapa pula, Suara, kamu tak pernah memperlihatkan ragamu?"
"Aku tak perlu memperlihatkan fisikku. Cukup kalian nikmati saja."
"Aku, sampah kulit pisang dan sampah basah lain, jika diolah menjadi enzim, telah menjadikan tanaman subur dan indah."
"Aku menyatu dengan tumbuh kembang tanaman di sekitarmu," tegas Suara Tanpa Raga.
Elis dan Nina mengangguk-angguk sebagai tanda paham.
"Jika kalian sudah paham dan mau peduli pada lingkungan dengan membuat enzim, atau minimal memilah sampah plastik dan sampah basah, aku antarkan kalian pulang sekarang, ya!" Suara Tanpa Raga mengingatkan.
Elis dan Nina berjingkrak.
"Makasih, Suara. Makasih nasihatmu. Akan kami laksanakan," jawab mereka.
Karena terlalu asyik mengobrol, tanpa sengaja Elis dan Nina menabrak pot bunga yang mereka lewati. Pot bunga keramik itu pecah. Saat mereka jongkok hendak mengambil pecahan keramik, tiba-tiba tubuh mereka terpental dan terjatuh kembali di jalan menuju kampung mereka.
"Elis, kita sudah kembali di jalan kita!"
"Ayo, lariiii!" jawab Nina.
Mereka menyusuri jalan menuju rumah masing-masing.
Komentar
Posting Komentar