Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN

 SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN Tak terasa usia Mamah kini menginjak 76 tahun. Usia yang boleh dikatakan sudah lanjut, bahkan renta. Memang demikianlah kenyataannya. Saat liburan seperti ini, kebanyakan orang tua ingin selalu turut serta bersama anak-anaknya karena memang sudah terbiasa. Demikian pula dengan Mamah, ke mana pun kami pergi berlibur,  beliau tak mau ketinggalan. Seperti yang terjadi hari ini, 27 Juni 2026. Mamah ikut pulang kampung ke Garut, kampung halaman suami. Hampir setiap kali bertemu atau saya pulang ke Purwakarta, Mamah selalu berkata bahwa jika saya pulang ke Garut, beliau ingin ikut. Oleh karena itu, kami rela memutar arah terlebih dahulu. Dari rumah di wilayah Cililin menuju Purwakarta untuk menjemput Mamah, kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Garut. Sehari sebelumnya, kami berangkat dari rumah pukul 10.30 dan tiba di rumah Mamah sekitar pukul 13.00. Setelah beristirahat sejenak, pukul 14.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ...

MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA

 MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA Oleh N. Mimin Rukmini Suatu waktu, ketika sedang berbelanja di warung tetangga, seorang ibu lewat begitu saja tanpa mengucapkan punten, permisi, atau minimal tersenyum. Pada kesempatan lain, saya menyuruh beberapa anak di sekolah untuk memasukkan kursi yang berada di depan kelas ke dalam kelas. Ada yang melaksanakannya, ada pula yang tidak. Sementara itu, saat saya sedang menyapu halaman rumah, beberapa gadis lewat dan sambil tersenyum mengucapkan "punten". Punten berarti permisi. Dari tiga contoh tersebut, terlihat bahwa karakter sopan santun dan kepedulian masih memprihatinkan. Di antara perilaku positif dan negatif, terkadang perilaku negatif lebih sering tampak.  Era digital yang ditandai dengan begitu cepatnya arus informasi melalui pemanfaatan telepon pintar (HP), misalnya, memungkinkan seseorang menjadi lebih cerdas atau menghasilkan usaha yang sukses. Tanda lain pada era ini adalah ketika orang-orang be...

BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA

  BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA Kebiasaan yang tertanam menjadi karakter sungguh harus dipaksakan. Saya selalu teringat bagaimana ketika orang tua selalu menyuruh membantu Mamah atau Bapak. Masih terngiang-ngiang pula, ketika saya  kelas 3 SD disuruh menyiangi rumput di halaman rumah. Saya menolak perintah Bapak. Lantas Bapak membawa sapu lidi sepertinya mau dipukulkan, saya berlari kabur seharian,  tinggal di rumah tetangga. Saya pulang sore hari.  Entahlah, sejak peristiwa itu saya tidak ingat lagi bagaimana saya, adik, dan kakak dalam proses membantu orang tua. Yang jelas, dari paksaan, demi paksaan membantu orang tua dan kerja rumah tangga sederhana, akhirnya menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah saya menjadi senang ketika membantu orang tua, atau senang berkebun karena pada mulanya selalu dipaksa oleh orang tua.  Demikian pula halnya dengan penanaman kegiatan literasi pada siswa. Penumbuhan karakter cinta literasi di sekolah sejak awal, sejatinya mula...