MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA

 MENGUATKAN KEMBALI KARAKTER PEDULI MELALUI NILAI-NILAI PANCASILA


Oleh N. Mimin Rukmini


Suatu waktu, ketika sedang berbelanja di warung tetangga, seorang ibu lewat begitu saja tanpa mengucapkan punten, permisi, atau minimal tersenyum. Pada kesempatan lain, saya menyuruh beberapa anak di sekolah untuk memasukkan kursi yang berada di depan kelas ke dalam kelas. Ada yang melaksanakannya, ada pula yang tidak. Sementara itu, saat saya sedang menyapu halaman rumah, beberapa gadis lewat dan sambil tersenyum mengucapkan "punten". Punten berarti permisi.


Dari tiga contoh tersebut, terlihat bahwa karakter sopan santun dan kepedulian masih memprihatinkan. Di antara perilaku positif dan negatif, terkadang perilaku negatif lebih sering tampak. 


Era digital yang ditandai dengan begitu cepatnya arus informasi melalui pemanfaatan telepon pintar (HP), misalnya, memungkinkan seseorang menjadi lebih cerdas atau menghasilkan usaha yang sukses.


Tanda lain pada era ini adalah ketika orang-orang berkumpul, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, mereka justru lebih banyak menunduk dan asyik dengan telepon pintarnya masing-masing. Orang lebih sering memberikan tanda suka (like) daripada langsung bertandang atau bersilaturahmi. Bahkan, lebih cepat memberikan komentar atau like daripada membantu secara langsung.


Di sekolah, misalnya, kini lebih mudah menentukan siswa berprestasi akademik dibandingkan memilih siswa teladan. Hal ini saya rasakan dalam beberapa tahun terakhir. 


Empat tahun lalu, ketika pertama kali datang ke sebuah sekolah, pada banner prestasi sekolah terdapat kategori siswa teladan. Namun, dalam dua tahun terakhir hal tersebut tidak lagi ditemukan. Yang ditampilkan hanya siswa dengan prestasi akademik dan nonakademik terbaik.


Sebagaimana kita ketahui, prestasi akademik sering kali dilihat dari perolehan nilai. Padahal, nilai tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari karakter siswa. Seorang guru tentu kurang bijaksana apabila menilai prestasi akademik hanya berdasarkan angka semata. Sebaliknya, prestasi akademik juga tercermin dari sikap siswa selama proses pembelajaran. Nilai kejujuran, kerja sama, serta kepedulian terhadap teman semestinya turut diperhitungkan dalam penilaian akademik.


Sementara itu, siswa teladan tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam sikap dan perilaku. Mereka aktif dalam organisasi, cakap, terampil, serta memiliki kemampuan kepemimpinan. Pendek kata, prestasi akademik dan nonakademik berkembang secara seimbang, ditopang oleh karakter yang baik serta jiwa kepemimpinan yang andal.


Penanaman karakter siswa inilah yang sejatinya menjadi tolok ukur keberhasilan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, hal paling mendasar yang perlu dilakukan adalah menguatkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 


Berbagai regulasi pemerintah pada hakikatnya bertujuan memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan. Profil Pelajar Pancasila, Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, maupun Program Panca Waluya Jawa Barat, semuanya bermuara pada upaya menumbuhkan dan menanamkan kembali nilai-nilai dasar Pancasila.


Selanjutnya, kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) maupun kegiatan kokurikuler yang kini menjadi bagian penting dalam pembelajaran juga bertujuan memperkuat pendidikan karakter siswa. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar pengetahuan, tetapi juga belajar bersikap dan berperilaku. Dengan demikian, nilai-nilai karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila maupun nilai-nilai dasar Pancasila dapat tumbuh dan tertanam dalam diri mereka.


Seperti telah dipaparkan sebelumnya, karakter peduli lingkungan, sopan santun, serta kemampuan bekerja sama dengan teman pada akhirnya bermuara pada akhlak mulia. Jika siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial, alam, budaya, dan lingkungan lainnya, dapat dipastikan bahwa mereka memiliki semangat gotong royong. Dari semangat gotong royong akan tumbuh persatuan, sikap mengutamakan kepentingan umum, hingga terwujud masyarakat yang berkeadilan.


Lebih lanjut, apabila siswa aktif, kreatif, dan inovatif, hendaknya mereka tidak hanya peduli pada teknologi digital. Dengan kata lain, perlu ada keseimbangan antara kepedulian terhadap lingkungan daring dan lingkungan luring. Tidak semata-mata sibuk dengan telepon pintar dan media sosial, tetapi juga hadir melalui tindakan nyata yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dengan demikian, lambat laun karakter tersebut akan selaras dengan nilai-nilai Pancasila, mulai dari sila pertama hingga sila kelima.

Semoga.

Cihampelas, 21 Juni 2026

Tulisan ini sudah disetor ke Kang Alee untuk dibuat buku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!