BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA

 

BERTOLAK DARI LITERASI SEDERHANA


Kebiasaan yang tertanam menjadi karakter sungguh harus dipaksakan. Saya selalu teringat bagaimana ketika orang tua selalu menyuruh membantu Mamah atau Bapak. Masih terngiang-ngiang pula, ketika saya  kelas 3 SD disuruh menyiangi rumput di halaman rumah. Saya menolak perintah Bapak. Lantas Bapak membawa sapu lidi sepertinya mau dipukulkan, saya berlari kabur seharian,  tinggal di rumah tetangga. Saya pulang sore hari. 


Entahlah, sejak peristiwa itu saya tidak ingat lagi bagaimana saya, adik, dan kakak dalam proses membantu orang tua. Yang jelas, dari paksaan, demi paksaan membantu orang tua dan kerja rumah tangga sederhana, akhirnya menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah saya menjadi senang ketika membantu orang tua, atau senang berkebun karena pada mulanya selalu dipaksa oleh orang tua. 


Demikian pula halnya dengan penanaman kegiatan literasi pada siswa. Penumbuhan karakter cinta literasi di sekolah sejak awal, sejatinya mulalui aturan ketat dari satuan pendidikan. Sengaja, saya paparkan tulisan proses kegiatan literasi di sekolah terutama memaksa murid untuk membaca buku atau menulis. 


Satuan Pendidikan jenjang SMP sejak tujuh tahun lalu bahkan beberapa tahun lalu jenjang SD juga telah mengikuti Tantangan Membaca Bandung Barat (TMBB). Artinya seluruh murid di Satusn Pendidikan dituntut untuk mengikuti tantangan membaca buku oleh pejabat Pemda Bandung Barat dalam hal ini Bupati dan diberi penghargaan langsung oleh Kadisdik KBB. Sedangkan pada satuan pendidikan diadakan Tantangan Membaca Kepala Sekolah (TMKS), artinya kepala satuan Pendidikan menjadi penantang murid dan penghargaan ditantangani oleh kepala satuan Pendidikan. 


Oleh karena ada kebijakan seperti di atas, maka di satuan Pendidikan saya sendiri TMKS atau TMBB sudah menjadi agenda tahunan. Dalam setiap semester ketika murid menerima buku laporan pendidikan ketika itu pula terlebih dahulu memenuhi syarat lulus TMKS. 


Semua murid wajib mengikuti TMKS. Dalam satu bulan, murid dituntut untuk membaca satu buku dan menulis satu review buku yang dibaca.  Murid wajib memiliki buku catatan literasi, yakni berupa agenda harian membaca, dan tulisan review dari buku yang dibaca. Buku catatan literasi dikumpulkan oleh kordinator masing-masing kelas melalui wali kelas dan pembina eskul literasi sekolah. Di akhir semester, buku literasi telah lengkap dan menjadi syarat pengambilan rapor. 


Kemudian, murid dengan membaca dan menulis  terbaik, ditunjukkan lewat membaca dan menulis review buku terbanyak, diberi reward dan dipampang dalam bener besar bersama dengan murid berprestasi lainnya, baik prestasi akademis maupun nonakademis.


Setelah dianalisis, ternyata murid berprestasi bidang akademik berbanding lurus dengan pembaca dan penulis terbanyak atau peserta TMKS terbaik. Bahkan ada murid masuk tiga besar TMBB, menjadi siswa berprestasi tingkat satuan pendidikan kami, SMPN 3 Cililin.


Tidak hanya prestasi akademik yang lahir pembiasaan penanaman membaca, satuan pendidikan kami pun berturut melalui pembiasaan membaca dan menulis ini telah berhasil membuat karya buku antologi  warga SMPN 3 Cililin. Buku itu berjudul "Torehan Asa Antologi Puisi SMP Negeri 3 Cililin" dan "Kisah Putih Biru Kami", yang terbit berturut - turut tahun 2024 - 2025. 


Ungkapan karakter seseorang harus dipaksakan, memang sangat tepat.  Dengan cara dipaksa lambat laun jadi kebiasaan. Namun, saya garis bawahi bukan berarti penanaman karakter dengan cara keras seperti yang telah  Bapak saya lakukan. Melalui pembiasaan sederhana yang konsisten dipastikan karakter membaca dan menulis akan terpatri dalam jiwa murid. Perjuangan  satuan pendidikan baru sekitar menanamkan kecintaan membaca dan menulis sederhana, belum sampai kegiatan literasi lebih jauh. Tetapi yakinlah, konsisten dengan kegiatan literasi membaca dan menulis, ini akan menjadi karakter murid untuk cinta membaca dan menulis. Semoga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!