SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN
SEMAKIN MENUA, SEMAKIN MEMBUTUHKAN PERHATIAN
Tak terasa usia Mamah kini menginjak 76 tahun. Usia yang boleh dikatakan sudah lanjut, bahkan renta. Memang demikianlah kenyataannya.
Saat liburan seperti ini, kebanyakan orang tua ingin selalu turut serta bersama anak-anaknya karena memang sudah terbiasa. Demikian pula dengan Mamah, ke mana pun kami pergi berlibur, beliau tak mau ketinggalan.
Seperti yang terjadi hari ini, 27 Juni 2026. Mamah ikut pulang kampung ke Garut, kampung halaman suami. Hampir setiap kali bertemu atau saya pulang ke Purwakarta, Mamah selalu berkata bahwa jika saya pulang ke Garut, beliau ingin ikut. Oleh karena itu, kami rela memutar arah terlebih dahulu. Dari rumah di wilayah Cililin menuju Purwakarta untuk menjemput Mamah, kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Garut.
Sehari sebelumnya, kami berangkat dari rumah pukul 10.30 dan tiba di rumah Mamah sekitar pukul 13.00. Setelah beristirahat sejenak, pukul 14.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Garut.
Perjalanan cukup lancar. Hanya sempat mengalami kemacetan di sekitar Leles hingga Tarogong. Maklum, saat ini sekolah sedang memasuki libur akhir tahun setelah perpisahan kelas IX serta kenaikan kelas VII dan VIII. Banyak masyarakat yang memanfaatkan momen ini untuk mudik ataupun berwisata.
Singkat cerita, kami tiba di rumah keponakan di daerah Bungbulang sekitar pukul 21.30. Kami disambut hangat oleh keluarga suami. Rasa lelah selama perjalanan pun terbayar dengan istirahat yang nyenyak di udara pedesaan yang sejuk.
Siang tadi, sekitar pukul 15.00, kami kembali pulang menuju Purwakarta untuk mengantar Mamah terlebih dahulu.
Selama perjalanan, seperti biasa kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat dan menunaikan salat. Saat turun dari mobil, berjalan menuju musala atau rumah makan, kondisi Mamah benar-benar terlihat semakin melemah. Tubuhnya semakin berisi, langkah kakinya semakin kaku, makanan pun harus yang lembut. Berjalan sedikit saja sudah mudah lelah, bahkan terkadang tampak sesak.
"Oh, Mamah... engkau semakin tak berdaya menghadapi kerapuhan usia."
Sungguh, kami semakin khawatir melihat keadaannya. Ke kamar mandi pun harus ditemani dan diperhatikan. Mengenakan pakaian, menggunakan air, hingga memakai mukena pun sering kali memerlukan bantuan.
Saat memulai tulisan ini , kami masih berada di perjalanan. Kami sedang beristirahat di Rest Area KM 125 Tol Cipularang. Suami yang sejak tadi menyetir kini tertidur lelap untuk memulihkan tenaga.
Sementara itu, Mamah tidak demikian. Sesekali beliau mengajak mengobrol, padahal pengemudi sedang beristirahat. Bahkan, tak lama kemudian Mamah mengajak ke kamar mandi. Suami pun akhirnya terbangun, dan saya mengantar Mamah ke sana.
Perjalanan ini memberikan hikmah yang sangat berharga. Dengarkan dan penuhi keinginan orang tua selagi mereka masih ada. Semakin bertambah usia, semakin besar pula perhatian yang mereka butuhkan. Memuliakan orang tua bukan hanya kewajiban, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup. Aamiin.
Dulu, tangan Mamahlah yang menggandeng kita belajar berjalan. Kini, saat langkah Mamah mulai melemah, sudah sepantasnyalah tangan kita yang menggandeng Mamah. Begitulah cara kehidupan memuliakan dan mengajarkan bakti kepada orang tua.
Tol Cipularang, KM 80 00.03 WIB, dalam perjalanan Garut–Purwakarta 27 Juni 2026
Komentar
Posting Komentar