DAMPAK KOMUNIKASI DAN KOORDINASI TERHADAP KINERJA SATUAN PENDIDIKAN*

 *DAMPAK KOMUNIKASI DAN KOORDINASI TERHADAP KINERJA SATUAN PENDIDIKAN*


Tak ada pimpinan tanpa koordinasi, tak ada yang dipimpin tanpa komunikasi. Koordinasi dan komunikasi adalah dua keniscayaan dalam sebuah organisasi, termasuk lembaga satuan pendidikan. Dua hal tersebut bukan isapan jempol belaka, melainkan sebuah pengalaman.


Manajerial di satuan pendidikan ibarat seorang koki. Lain koki, lain masakan. Setiap koki memiliki cara, teknik, dan racikan masing-masing dalam menghasilkan masakan. Demikian pula dalam kepemimpinan, setiap pimpinan memiliki gaya tersendiri dalam berkomunikasi dan berkoordinasi. 


Perbedaan cara memimpin tersebut dapat menghasilkan suasana dan hasil yang berbeda. Ada kalanya kebijakan dan arahan pimpinan membuat nyaman yang dipimpin. Komunikasi dan koordinasi diterima, dipahami, dan dilaksanakan secara harmonis oleh kedua belah pihak. Sebaliknya, di saat lain, komunikasi dan koordinasi kurang atau tidak harmonis sehingga berdampak pada kurangnya motivasi dan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan (tendik).


Penulis sebagai pimpinan satuan pendidikan berusaha memadukan komunikasi dan koordinasi sebagai pijakan sekaligus jembatan dalam setiap kegiatan untuk mencapai visi dan misi sekolah.


Sebagai pijakan dan jembatan itulah, komunikasi dan koordinasi penulis laksanakan secara berkelanjutan. Tidak hanya pada awal kegiatan melalui pemberian arahan, tetapi juga selama proses pelaksanaan, evaluasi, apresiasi, refleksi, hingga tindak lanjut.


*Implementasi Komunikasi dan Koordinasi*


Penulis melakukan komunikasi dan koordinasi tidak hanya melalui grup WhatsApp, tetapi juga melalui sapaan, pembicaraan, atau rapat secara langsung dan terbuka. Salah satu contoh arahan yang disampaikan melalui grup adalah sebagai berikut.


Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Selamat malam Bapak/Ibu Hebat!


Tahun ajaran baru, semangat baru! ❤️🌷


Untuk kegiatan besok:


1. Kelas 8 dan 9 didampingi wali kelas mengumpulkan buku rapor dan menyelesaikan masalah siswa yang rapornya ditahan. Selanjutnya, di kelas membuat kesepakatan kelas dan organisasi kelas.

2. Kegiatan MPLS dipastikan seperti yang sudah biasa kita laksanakan, sehingga peserta merasa aman dan nyaman.

3. Tolong pembina OSIS, kesiswaan, atau Bapak/Ibu semua memantau OSIS agar bekerja sesuai dengan aturan (tidak ada senioritas negatif/kekerasan terhadap adik kelas).

4. Efektivitas belajar kelas 8 dan 9 besok kita sepakati.


Jika masih ada masukan, silakan ditulis atau ditambahkan!


Hatur nuhun!


Wassalam.


Arahan penulis dalam bentuk komunikasi dan koordinasi melalui grup WhatsApp tersebut menggambarkan langkah awal kinerja pada awal semester. Diharapkan pendidik dan tendik memiliki pedoman serta pijakan, bahkan motivasi untuk memulai kinerja. Penulis pun terbuka menerima masukan sekiranya ada langkah yang tertinggal dan perlu dilaksanakan.


Komunikasi dan koordinasi tidak berhenti pada pemberian arahan di awal kegiatan. Keduanya terus dilakukan selama kegiatan berlangsung, termasuk dalam proses evaluasi, refleksi, apresiasi, dan tindak lanjut. Salah satu bentuknya terlihat dalam ungkapan apresiasi berikut.


“Mantap! 👍


Makasih Bu Kurikulum!


Makasih Bapak/Ibu wali kelas, baru enam wali kelas. Tiga wali kelas lagi, ya, lanjut!!!


Mantap pula dengan struktur organisasi + kesepakatan kelas, sampai ada yang 13 poin. Semoga kesepakatan kelas menjadi penyemangat untuk sama-sama mematuhi aturan bersama.


Oh, ya. Salut untuk hari ini. Terima kasih, rekan-rekan semua. 🙏 Saat jam pelajaran tak ada lagi anak-anak yang main bola di lapangan.”


Komunikasi dan koordinasi tersebut dapat dibuktikan pula secara tertulis dalam catatan agenda harian penulis (Agenda Harian Kepala Sekolah).


Komunikasi multiarah antara rekan guru, guru dengan kepala sekolah, guru dengan murid, bahkan seluruh warga sekolah, termasuk pemimpin satuan pendidikan dengan masyarakat atau pemerintah, menjadi salah satu penentu keberhasilan kinerja, pembelajaran, prestasi, dan pembentukan karakter di satuan pendidikan.


Demikian pula, koordinasi yang tepat akan mewarnai dan mengarahkan langkah kerja seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Pada akhirnya, komunikasi dan koordinasi bukan sekadar upaya menyampaikan arahan atau membagi tugas, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan kinerja satuan pendidikan yang lebih baik. Sebab, setiap langkah dan kerja bersama pada hakikatnya harus bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran dan keberhasilan murid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopdar Tiga dan Hal Tak Terduga

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit