MELEMPAR JUMROH
MELEMPAR JUMROH
Setelah salat magrib waktu itu, kami rombongan naik bus ke Muzdalifah. Seperti yang sudah terlihat sebelum ke Arafah, hamparan sajadah dan karpet sudah terbentang di pasir area terbuka. Subhanallah area pegunungan batu yang luas.
Pak Pembimbing Haji mengemukakan bahwa setelah Wukuf di Arafah, bada magrib kita akan mabit di Muzdalifah. Ya, saat menuliskan kembali cerita dari wukuf Arofah dan mabit di Muzdalifah, lantas pagi harinya siap melempar jumroh, saya merasa diingatkan oleh Prof Naim yang tadi siang sedang siap-siap pergi melempar jumroh. Luar biasa!
Setelah mabit di Muzdalifah seperti telah saya paparkan pada tulisan sebelumnya, pagi hari setelah subuh kami satu rombongan KBIH dan peserta haji lain, beranjak menuju jalan raya. Berjalan beriringan di antara ribuan jamaah haji, dengan maksud menunggu bus untuk pergi ke Jamarot Mekah untuk melempar jumroh.
Lama sekali menunggu bus. Tak ada satu pun bus yang kosong. Itu pun jarang sekali lewat. Pembimbing Haji Pak Ustad Hasan mendapat kabar bahwa bus tidak akan ada lagi karena tertutup jamaah yang tidak sabar untuk mengantri. Pada akhirnya kami jamaah berjalan kaki bersama ratusan jamaah lainnya menuju Jamarot.
Terik matahari yang sudah mulai mwnyengat kulit membersamai kami sel ama di perjalanan. Saling menyemangati di antara jamaah terus kami lakukan. Terkadang Pak Ketua Rombongan Pak Hilmi jauh di depan kami, Pak Pembimbing di belakang, atau Pak Pembimbing di depan dengan membawa bendera sebagai tanda atau ciri KBIH kami.
Mungkin kurang lebih 3/4 perjalanan ke Jamarot, teman kami Bu Eulis pingsan di perjalanan. Kami membantu menolong Bu Eulis dan diperiksakan pada petugas haji. Ternyata Bu Eulis kecapaian dan mengenakan jaket sehingga tubuh terlalu panas. Bu Eulis melanjutkan perjalanan dengan menggunakan roda.
Kurang lebih pukul 14.00 kami sampai di Jamarot. Sebagaimana arahan Pak Ustad Hasan, kami melempar batu ke Jamarot memburu posisi paling ujung posisi seperti mau balik kembali. Hal tersebut dilakukan dengan maksud supaya tidak bentrok dengan yang akan melempar.
Tidak terasa bagaimana kisah seru, haru, dan susahnya langkah melempar jumroh, pada akhirnya kami selesai melaksanakan ibadah ini. Bahagia luar biasa, bisa keluar dari himpitan ribuan jamaah hingga kami saling memeluk merasakan betapa bahagianya, ibadah fisik bisa terselesaikan dengan baik. Kami menangis, tertawa, menumpahkan segala rasa bahagia.
Bada waktu asar, kami kembali ke hotel, Alhamdulillah, saat pulang dari JamarotJamarot, bus sudah kembali beroperasi. Kami naik bus menuju hotel.
Memorian setahun lalu. Cihampelas, 31 Mei 2026
Komentar
Posting Komentar