TMBB: KETIKA MEMBACA TERIKAT KONTRAK KERJA

 

TMBB: KETIKA MEMBACA TERIKAT KONTRAK KERJA

Kupu-Kupu di Dalam Buku

Ketika duduk di stasiun bus, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya, di negeri mana gerangan aku sekarang....

Cuplikan puisi karya Taufiq Ismail di atas sungguh mendeskripsikan betapa lemahnya kebiasaan membaca bangsa kita. Lebih jauh lagi, kondisi tersebut tercermin pada kemampuan literasi, bahkan numerasi, sebagaimana tampak dalam Rapor Pendidikan kita.

Telah banyak upaya, program, dan regulasi pemerintah yang berkaitan dengan literasi dan numerasi. Demikian pula implementasinya, khususnya oleh satuan pendidikan, telah dilaksanakan secara masif, salah satunya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Namun, hasil dari berbagai kegiatan tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

Tidak perlu berkecil hati. GLS merupakan bagian dari upaya menumbuhkan karakter gemar membaca. Yang namanya penumbuhan atau pembiasaan adalah sebuah proses. Tidak serta-merta sekali dilakukan langsung berhasil, tetapi memerlukan konsistensi yang terus-menerus, disertai evaluasi, refleksi, dan tindak lanjut.

Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (Disdik KBB) pun turut mendukung dan memasifkan pelaksanaan GLS. Sejak tahun 2018, Disdik KBB menyelenggarakan Tantangan Membaca Bandung Barat (TMBB) sebagai bentuk implementasi nyata Gerakan Literasi Sekolah. Hingga tahun pelajaran 2025–2026, TMBB masih terus dilaksanakan.

Kegiatan TMBB bukan sekadar tantangan membaca yang dicanangkan oleh Kepala Dinas Pendidikan. Lebih dari itu, banyak inovasi yang lahir selama proses pelaksanaannya. Setelah merampungkan tantangan membaca, peserta dituntut mampu menghasilkan tulisan berupa ulasan buku dengan berbagai bentuk, baik tulisan, infografis, maupun media lainnya. Pada akhirnya, hasil review tersebut dihimpun menjadi buku antologi karya warga sekolah peserta TMBB. Selain itu, berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi setiap tahun, peserta juga didorong untuk menghasilkan konten digital.

Peserta TMBB terdiri atas peserta didik, guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, bahkan sekolah sebagai satuan pendidikan. Sebagai pelaksana di lapangan, sejak tahun 2018 Disdik KBB juga membentuk Tim Fasilitator TMBB yang terdiri atas sepuluh orang dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas. Saya (penulis) termasuk salah satu anggota Tim Fasilitator TMBB tersebut.

Banyak suka dan duka yang saya alami sebagai fasilitator. Mulai dari kegiatan sosialisasi hingga monitoring dan evaluasi (monev) terhadap peserta terbaik atau sepuluh besar, semuanya memberikan pengalaman yang luar biasa. Jalinan silaturahmi melalui kunjungan ke berbagai pelosok satuan pendidikan peserta menjadi peluang, tantangan, sekaligus kenangan yang tak terlupakan. Belum lagi saat pembagian sertifikat atau piagam kepada seluruh peserta, serta bazar buku hasil karya peserta. Semua itu menjadi bukti bahwa inovasi GLS yang digagas Disdik Bandung Barat bukanlah isapan jempol belaka.

Proses Pelaksanaan TMBB

TMBB tidak dilaksanakan hanya dalam beberapa hari seperti pelatihan, diklat, workshop, atau kegiatan sejenis. Program ini berlangsung minimal selama tiga bulan berturut-turut.

Setelah sosialisasi di tingkat kabupaten, subrayon, dan sekolah, minggu pertama digunakan untuk pembagian buku yang akan dibaca peserta sekaligus sosialisasi penulisan review. Minggu kedua dimanfaatkan untuk membaca buku. Minggu ketiga peserta menyusun review atau tulisan hasil membaca. Selanjutnya, pada minggu keempat, guru pembimbing merekap peserta yang telah menyelesaikan tantangan membaca dan menulis, kemudian melaporkannya kepada koordinator subrayon hingga fasilitator tingkat kabupaten.

Setelah masa tantangan berakhir, tim fasilitator bekerja keras merekap seluruh peserta dan menentukan calon pemenang. Selanjutnya dilakukan evaluasi dan validasi untuk memastikan bahwa hasil membaca dan tulisan peserta benar-benar sesuai. Setelah seluruh proses selesai, tim mengusulkan kepada Disdik KBB pelaksanaan pemberian sertifikat atau piagam penghargaan bagi seluruh peserta sesuai jenis dan level tantangan yang diikuti.

Masa Evaluasi dan Refleksi

Usai masa tantangan, tim fasilitator berkumpul untuk melakukan evaluasi, refleksi, serta menyusun tindak lanjut pelaksanaan TMBB pada tahun berikutnya. Seluruh perbaikan program mengacu pada hasil refleksi tersebut. Tim terus melakukan inovasi, salah satunya dengan menyusun dan memperbarui buku panduan sesuai perkembangan jenis tantangan.

Hikmah di Balik Tantangan dan Kontrak Kerja

Tak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Tak ada tantangan tanpa kontrak kerja. Tantangan Membaca Bandung Barat (TMBB) merupakan kontrak kerja literasi yang dijalankan dengan kerja ikhlas, tuntas, dan berkesinambungan. Kontrak kerja tahunan ini melibatkan ratusan peserta setiap tahun. Ratusan buku telah dibaca, melahirkan berbagai karya inovatif, tidak hanya berupa buku antologi, tetapi juga poster literasi dan berbagai konten kreatif digital.

Alhamdulillah, dalam dua atau tiga tahun terakhir TMBB telah menjadi salah satu inovasi daerah Disdik KBB sehingga eksistensinya semakin mengakar di satuan pendidikan SMP. Bahkan, di sekolah-sekolah lahir inovasi serupa dengan nama Tantangan Membaca Kepala Sekolah (TMKS).

Demikian kiprah TMBB. Semoga keberadaannya selama delapan tahun ini terus menumbuhkan karakter literasi tanpa henti. Dengan dukungan Disdik KBB, TMBB dan TMKS diharapkan semakin membudaya di satuan pendidikan, mengakar kuat sebagai budaya belajar, serta melahirkan generasi yang gemar membaca dan menulis. Dengan demikian, gambaran yang disampaikan Taufiq Ismail dalam puisinya tidak lagi menjadi cerminan bangsa kita. Semoga.

Komentar

  1. Semangat membaca dan menulis adalah kontrak dan komitmen pada diri sendiri.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

MENGAJAK MENULIS DENGAN TEKNIK TAK DISENGAJA