Ketika Sinergi Antarelemen Teriris oleh Kebijakan
Ketika Sinergi Antarelemen Teriris oleh Kebijakan
Oleh N. Mimin Rukmini
Kepala SMP Negeri 3 Cililin
Saat melihat sekelompok burung terbang di angkasa, tampak mereka beriringan dengan tenang tanpa saling mendahului. Mereka kompak bergerak menuju arah yang sama.
Demikian pula dalam kinerja kita di satuan pendidikan maupun dunia pendidikan pada umumnya. Alangkah bahagianya ketika antarelemen bekerja saling mendukung dan bersatu padu tanpa selalu dibayangi hubungan birokratis antara atasan dan bawahan. Saya maksudkan bahwa antarelemen, baik di unsur dinas maupun di satuan pendidikan itu sendiri, bekerja sebagai mitra dengan tetap berpedoman pada regulasi dan kebijakan yang berlaku.
Sinergi sesungguhnya dimulai dari ruang kelas. Secara konkret, dalam pembelajaran sudah bukan zamannya lagi guru hanya menyuruh dan menempatkan murid sebagai objek pembelajaran. Murid hanya diminta duduk, diam, dan mendengar. Sebaliknya, guru sejatinya menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran. Guru bertindak sebagai pembimbing, pelatih, sekaligus pengarah.
Selanjutnya, guru mengajak murid berdiskusi dan berpikir kreatif sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Melalui filosofi tersebut diharapkan murid dapat bertumbuh dengan baik dalam lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Di era digital saat ini, berbagai kebijakan dan regulasi pendidikan terus bermunculan. Sementara itu, sinergi antarelemen pun terus berjalan. Namun, pada suatu waktu kebijakan dapat hadir bukan lagi sebagai penguat kemitraan, melainkan lebih terasa sebagai instruksi. Inilah yang terkadang menjadi penyebab teririsnya sinergi. Sebagai pelaksana di lapangan, satuan pendidikan terkadang hampir kewalahan menjalankan berbagai regulasi tersebut.
Sebagaimana paparan di atas, sinergi antarelemen selama ini telah terjalin dengan baik. Sinergi itu tampak dalam hubungan antarguru, guru dengan kepala sekolah, kepala sekolah dengan pengawas, maupun satuan pendidikan dengan pemerintah melalui berbagai regulasi dan koordinasi. Antarelemen saling memahami dan saling menguatkan bahwa regulasi memang harus dilaksanakan. Tidak merasa digurui atau diperintah, melainkan menjadi mitra kerja, bukan sekadar hubungan antara atasan dan bawahan. Tidak merasa menyuruh ataupun disuruh, tetapi saling membutuhkan untuk bersama-sama melaksanakan regulasi tersebut.
Saya masih teringat ketika belum terjun langsung sebagai kepala satuan pendidikan. Saat itu saya selalu diwanti-wanti agar menggerakkan lembaga secara pelan-pelan. Saya juga menyadari pentingnya menempatkan diri serta mengukur sejauh mana kebermanfaatan kita di hadapan guru dan seluruh warga satuan pendidikan.
Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman tersebut, sebagaimana kebermanfaatan kita di hadapan murid, kiranya agar sinergi yang telah terjalin tidak sampai teriris, antarelemen perlu sama-sama menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Hal itu bukan berarti kita mengabaikan regulasi, melainkan bersama-sama belajar memahami serta menentukan tindak lanjut terbaik dari pelaksanaan regulasi tersebut.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan agar sinergi tetap terjaga adalah sebagai berikut.
1. Membangun komunikasi yang terbuka. Komunikasi yang terbuka akan menumbuhkan rasa percaya. Melalui komunikasi yang baik akan terbangun pula sikap saling menghargai dan saling memotivasi.
2. Menjadi pemimpin yang fleksibel. Pemimpin senantiasa memperhatikan dan mendengarkan apa yang disampaikan murid maupun guru.
3. Menyamakan tujuan. Setiap satuan pendidikan memiliki visi dan misi. Oleh karena itu, setiap kegiatan di sekolah sejatinya mengarah pada pencapaian visi dan misi tersebut.
4. Menghargai perbedaan peran dan pendapat. Bersinergi bukan berarti semua pendapat harus sama. Perbedaan yang disikapi dengan saling menghargai justru akan melahirkan keberagaman gagasan dan inovasi.
5. Saling mendukung dan menguatkan. Di tengah keberagaman, sikap saling mendukung akan semakin memperkokoh sinergi.
6. Melakukan evaluasi dan refleksi bersama. Evaluasi dan refleksi yang dilakukan bersama akan memperkuat sinergi sekaligus menjadi dasar perbaikan pada langkah berikutnya.
Ibarat burung yang terbang dengan tenang dan tetap fokus pada tujuannya, sinergi bukan sekadar bekerja bersama, melainkan bertumbuh bersama. Sinergi yang kuat antarelemen tidak akan mudah teriris hanya karena hadirnya regulasi baru. Sebab, regulasi sejatinya hadir untuk menguatkan tujuan bersama, bukan melemahkan semangat kebersamaan.
Komentar
Posting Komentar