Di Balik Riuh Lomba Agustusan dan Maulid Nabi
Di Balik Riuh Lomba Agustusan dan Maulid Nabi
Oleh N. Mimin Rukmini
Beberapa waktu lalu, penulis menyimak TikTok tentang kegiatan lomba Hari Kemerdekaan. Dalam paparan TikTok tersebut, murid menanyakan kepada gurunya mengapa kegiatan lomba Agustusan salah satunya selalu ada lomba gerak jalan. Murid mengkritisi seolah-olah lomba gerak jalan tidak kreatif dan inovatif. Guru dalam TikTok itu menjelaskan bahwa kita tidak melihat kreatif dan inovatifnya, tetapi melihat dari makna lomba gerak jalan itu sendiri. Dalam lomba gerak jalan tertanam kebersamaan, keberagaman, kesetaraan, kerja keras, dan sebagainya.
Demikian pula bentuk lomba Agustusan lainnya, sebagaimana yang dilakukan di sekolah kami, SMPN 3 Cililin, seperti lomba futsal, lomba egrang, tarik tambang, atau balap karung dan sejenisnya. Bentuk lomba tersebut masing-masing memiliki nilai dan pembelajaran tertentu. Lomba Agustusan tidak sekadar mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu adalah penanaman karakter: bagaimana menghayati, memaknai, dan mensyukuri peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Pada kegiatan lomba itu pula, sekolah, khususnya guru, secara langsung atau tidak langsung dapat melihat keberagaman potensi murid. Salah satunya, penulis dan guru-guru merasa kagum terhadap kemampuan komentator lomba futsal bernama Ferdy atau Rian. Kedua murid tersebut seperti sudah terbiasa menjadi komentator. Karena kelihaian komentator, penonton menjadi antusias dan ramai memberikan motivasi kepada para pemain futsal di lapangan.
Sementara itu, menjelang dua hari terakhir, Kamis dan Jumat pada minggu keempat bulan Agustus, kegiatan Agustusan dilanjutkan dengan kegiatan lomba untuk menyemarakkan kegiatan Maulid Nabi dan acara pokok melalui ceramah yang disampaikan oleh Guru PAI, Pa Devi. Lomba kegiatan Maulid tersebut meliputi pidato keagamaan, kaligrafi, dan lomba membuat tumpeng.
Seru, haru, dan bangga. Dua kegiatan dilakukan dalam tempo satu minggu berturut-turut. Semua guru, staf TU, mengambil bagian dalam tugas dan kinerja kepanitiaan. Yah, walaupun tidak menjadi panitia, setidaknya minimal menjaga sebagian murid-murid yang tidak ikut bagian dalam perlombaan untuk tetap berada di lapang, sekolah, atau area pertandingan.
Penulis pun tidak sekadar menjadi penanggung jawab kegiatan, tetapi turut pula ambil bagian dengan menjadi salah satu tim juri pidato keagamaan. Sesuai dengan arahan panitia, khususnya staf OSIS, peserta pidato terdiri atas 9 orang sebagai perwakilan kelas.
Tak ada keberhasilan tanpa pengorbanan, tak ada kesuksesan tanpa kekompakan. Artinya, antara peluang dan tantangan mesti bergandengan. Pada saat kegiatan lomba, ada saja murid yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mereka menganggap bahwa saat lomba tidak sedang berlangsung pembelajaran di dalam kelas. Ada pula guru yang entah berhalangan atau bukan, saat kegiatan tidak hadir, dan sebagainya.
Berikutnya, saat pembagian tumpeng, ibu-ibu guru sedikit mengeluh karena banyak yang harus dibagikan. Padahal, aturan membuat tumpeng sudah jelas, yakni tumpeng yang akan dinilai cukup tumpeng mini. Namun, tetap saja tumpeng itu masih berukuran besar. Karena banyaknya tumpeng itu, jika tidak langsung dibagikan, nasi tumpeng dan lauk-pauknya dikhawatirkan cepat basi.
Tidak semua tantangan dan peluang penulis ungkapkan. Hanya saja, perlu penulis garis bawahi, aturan lomba, kekompakan OSIS, panitia, dan para guru untuk lebih ditingkatkan kembali. Penulis hanya merefleksi kegiatan secara umum. Refleksi secara khusus per mata lomba, penulis menunggu hasil refleksi dari guru-guru dan staf TU.
Dengan demikian, kegiatan peringatan hari besar, yakni Tujuh Belasan dan Maulid Nabi, yang tampaknya hanya berupa lomba, sesungguhnya merupakan ruang penumbuhan karakter dan ruang untuk melihat potensi murid. Namun, keberhasilan kegiatan itu membutuhkan kekompakan seluruh warga sekolah. Semoga!
Komentar
Posting Komentar