Postingan

LOBA JALMA ANYAR (Pentigraf)

 LOBA JALMA ANYAR Kuring ngabarakatak seuri, ninggang aya guru nyeletuk, "Bu, mun usum hujan kieu, ngadak-ngadak sok loba jalma anyar da?" Kuring ngahuleng kagèt jeung bingung. Bari nanya kunaon sababna, pèk tèh èta guru nèmbalan, yèn loba jalma anyar tèh nu boga motor  atawa naèk motor.  Terus èta guru ngajèntrèkeun deui. Usum hujan tangtuna mun naèk motor  bakal huhujanan. Komo lamun huhujanan bari jeung babaseuhan da lantaran teu mawa jas hujan. Kuring rada unggeuk-unggeukan bari jeung dilenyepan èmang kaharti.  Antukna èta guru ngadongèngkeun deui bari mèsem yèn jas hujan dijieunna tina palastik. Naon-naon nu dibungkus palastik geus pasti barang anyar. Baju anyar, sendal anyar, jeung sajabana. Tah, jalma ogè nu naèk motor, jas hujan tèh sarua palastik, jalma nu dipalastikan tinangtu jalma anyar kènèh, lain anyar pinanggih atawa pindah, tapi anyar jiga sapatu, atawa baju. Beu, kaharti kitumah. Bari kuring nyeuleukeuteuk.  Cag ah!  Lalakon di sakola ...

KESEPAKATAN KELAS SARANA EFEKTIF PENGUATAN KARAKTER MURID

KESEPAKATAN KELAS SARANA EFEKTIF PENGUATAN KARAKTER MURID Hampir tiap hari ada saja murid yang berbuat tidak baik dalam lingkungan sekolah. Tidak hormat pada guru, kesiangan, bolos, berkelahi, perundungan, dan sebagainya. Ibarat angin terus berhembus, satu sisi menyegarkan  di sisi lain bisa menyebabkan masuk angin. Lebih jauh masuk angin tidak karena angin saja  tetapi karena pola makan atau telat makan. Begitu pun karakter tidak baik pada murid,   bisa saja terjadi karena kurangnya pencegahan  dan pendekatan, serta cara penanganannya. Menarik sekali ketika beberapa tahun terakhir kita mendengar istilah kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas merupakan norma atau aturan kelas yang dibuat secara bersama oleh pendidik dan murid untuk menciptakan suasana kondusif, nyaman, dan menyenangkan. Norma aturan itu dibuat berdasarkan hasil diskusi disepakati, dan diharapkan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab (komitmen bersama). Norma hasil kesepakatan dilaksanakan bukan...

RINDUKU PADA PENA

RINDUKU PADA PENA Oleh N. Mimin Rukmini Rinduku pada pena Adalah rindu Tanaman perdu Pena kutulis Pikir menangis Entah apa yang disapa Sedang angin terus berhembus Rinduku pada pena  Adalah rindu tanaman perdu Pena kukayuh Sedang ilmu tak kubasuh Akal tak kuasah Langkah tertatih Rinduku pada pena  Adalah rindu tanaman perdu Ketika pena bernyanyi Suara parau Sumbang salah juang Bunyi tak berarti Sunyi sepi Rinduku pada pena Adalah rindu tanaman perdu Gerak pena penuh kaku Langkah lunglai banyak lalai Pena kembali kugoreskan Kupetik waktu Hingga raga tak lagi menyapa Bandung Barat, 21 Januari 2026

MENGGIRING MURID UNTUK TETAP BERADAB

MENGGIRING MURID UNTUK TETAP BERADAB Beberapa waktu lalu saya memerhatikan tanah di pekarangan rumah. Saya refleksikan bagaimana ketika tanah menerima segala macam sampah, kotoran, dan sejenisnya, namun beberapa saat kemudian tanah kembali pada bentuk semula bahkan istimewa bisa menjadi  obat. Tanah pun bisa menyuburkan dan menumbuhkan tanaman. Tanaman dengan berbagai jenis dan bentuk yang beragam.  Lalu saya pun merenung ketika guru menghadapi berbagai karakter murid hingga saya mengilustrasikan tanah tersebut dengan kehidupan guru. Mampukah guru hidup seperti tanah? Artinya, guru bisa menjadi bengkel sikap murid, mendampingi, mengarahkan murid, hingga ketika murid berperilaku kurang etis mampu kembali ke sikap yang lebih etis.  Pembahasan tentang adab atau budi pekerti tak akan ada ujungnya. Termasuk adab di satuan Pendidikan. Bagaimana sopan santun antara murid dengan murid, murid dengan pendidik dan tendik atau  murid dengan orang tua, dan masyarakat sekitar. Say...

MEMBANGUN MUSALA

Gambar
  MEMBANGUN MUSALA Empat tahun berjalan saya menjadi pimpinan di Satuan Pendidikan SMP Negeri 3 Cililin. Suka duka menjadi pimpinan terus melekat seiring banyaknya pelajaran dari pengalaman. Ibarat tumbuh kembangnya pohon yang kita tanam, boleh jadi tanaman semakin berdaun dan berbuah lebat, atau justru kurang bertumbuh dan berkembang. Visi dan misi mewujudkan murid yang berakhlak mulia, unggul, terampil, inovatif, aktif, religius, dan adaptif “Mutiara” menjadi dasar dalam pelaksanaan proses pembelajaran, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.   Namun, upaya mewujudkan visi tersebut tentu tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana menjadi salah satu aspek penentu keberhasilan proses pendidikan. Termasuk di dalamnya sarana ibadah berupa musala yang hingga kini belum dimiliki sekolah. Ketiadaan sarana ibadah utama ini menjadi salah satu kendala dalam pembentukan karakter religius murid. Ibadah salat secara berjemaah yang dapat...

BERBALAS PANTUN DI GRUP RVL

 BERBALAS PANTUN DI GRUP RVL Bunga indah mau kubeli Warna ping bunga sakura  Melihat grup rame sekali Di pagi dingin membaca gembira Kita berlari supaya sehat Sambil joging nada doremi Minggu pagi terasa hangat Larut di grup RVL bareng suami Elok nian baju berenda Dipakai bunda ke Suramadu Pantun pagi sungguh menggoda     Grup RVL makin dirindu Kapal berlabuh di lautan  Kendali nahkoda tiada takut Menulis bersama jadi harapan Dengan RVL kita berlanjut Ke Bogor lanjut Selabintana Tentu singgah di Sukabumi Pantun indah banyak makna Pengikat hati, silaturahmi Negeri kita ya Indonesia Banyak ragam budaya buhun Minggu ini sungguh ceria.  Di grup RVL berbalas pantun Kain tenun hiasan kusen Motif batik seni budaya Antologi pantun sangatlah keren Kita bersantai sambil berkarya Bunga bugenvil dibawa gadis Cantik manis Si Anak Tunggal Grup RVL bengkel menulis Tak berkarya bakal tertinggal Terasa manis buah pepaya Enak dimakan dipotong dadu Tetap menulis lanjut b...

MENULIS, BEBAN, DAN KEBAHAGIAAN

Gambar
  MENULIS, BEBAN, DAN KEBAHAGIAAN Telah banyak pendapat, taktik, jurus jitu, motivasi, dan sebagainya tentang menulis. Termasuk pendapat Abah Khoiri, Prof Naim, Bunda Daswatia, dan terakhir pendapat Kang Makhrus. Sajian tentang menulis yang beraneka ragam dilihat dari sudut pandang penulis, memberi kesan tersendiri, namun memang dapat saya rasakan bagaimana perumpamaan-perumpamaan itu teralami pada saat sebelum, selama, atau sesudah menulis.  Saya pernah mengemukakan bahwa menulis itu ibarat terjebak di hutan rimba, bagaimana caranya keluar dari hutan. Yang kadang dirasa amat lucu, mengapa toh kita ingin terjebak lagi di hutan belantata tersebut. Orang suka mendaki, padahal mendaki itu cape, eh, malah ingin mendaki lagi, bahkan mendaki ke tempat yang lebih terjal.  Lalu saya mencoba menulis harian, ketika  hari ini belum menulis jadilah beban hidup mendalam.  Padahal tidak ada yang mengejar, tidak ada pula tuntutan harus menulis. Seperti perumpamaan mengendarai ...