MENJERIT DALAM DOA, PASTIKAN MELANGIT




MENJERIT DALAM DOA, PASTIKAN MELANGIT


Mungkin saya katakan berlebihan jika judul catatan hari ini, Rabu 18 Juni 2025 seperti tertulis di atas. Tidak kawan! Saya katakan tidak berlebihan, memang benar adanya. Benar-benar saya alami beberapa hari lalu dan hari ini.  Percayalah! 


Saya ingat pepatah dalam bahasa Sunda "Mun keyeng, tangtu pareng", artinya jika keras kemauan tentu akan tercapai apapun kemauan. Ilustrasi di atas mengindikasikan jika memang ada keinginan lalu kita berusaha, dan memohon, serta berdoa pada Alloh dengan sungguh-sungguh, dipastikan Alloh SWT akan mengabulkan doa kita. Apalagi ketika kita ada di kota suci Kota Mekah.


Seperti saat ini, saya, suami, Neng Mpat, dan Neng Luttfi, menyengaja datang ke Mesjidil Harom untuk melakukan towaf sunat.  Dalam hati menjerit, "Ya, Alloh, moga towaf hari ini saya dan suami bisa sampai memegang kabah. Sebenarnya ternyata Neng Mpat dan Neng Lutfi pun memiliki target yang sama, mereka sama-sama ingin memegang kabah apalagi mengecup hajar aswad. 


Turun dari bus kami mencari lorong jalan  terdekat menuju kabah. Masuk dari gate Babussalam lantai 2, lalu turun ke lantai bawah Kabah mengikuti arus towaf. Kami sepakat jika nanti dua orang, dua orang teepisah saat towaf kami akan saling menunggu di pintu gate Al Fath. 


Kami mulai towaf. Star dari lampu hijau sebagai garis permulaan towaf. Saya dan suami berdoa dengan mengucapkan "Bismillahi Wallohuakbar". Saya selalu ingat arahan Pak Karom, bahwa dalam towaf tidak ada doa khusus selain bacaan setiap memulai putaran towaf sampai putaran ketujuh dan bacaan robbana attinapidunya hasanah wafil akhiroti hasana wakinna adabannar pada setiap putaran menjelang batas lampu hijau. 


Kalau memang tidak ada bacaan khusus ketika towaf kecuali yang dua tadi, lantas bagaimana dan bacaan apa saja selama putaran towaf tersebut? Saya mendapat inspirasi Bu Hj. Lilis agar tujuh putaran towaf tidak bingung menghitung putaran, dengan menggunakan doa- doa yang sudah diniatkan sendiri. Misalnya putaran towaf kesatu doa untuk anak, putaran dua mohon ampun demikian seterusnya sampai putaran 7. 


Saya dan suami, sudah menyepakati doa untuk tiap putaran towaf. Putaran satu, dua, tiga, dan empat memuji Alloh Swt dengan zikir subhanallah, Alhamdulillah, Allohhuakbar, dan Lailaahailllalloh. Putaran kelima memohon ampun dengan istigfar (astagfirullah alazim) selama putaran towaf. Keenam doa untuk orang tua (robbigfirliiwaliwalidaya dat..). Putaran towaf terakhir doa untuk anak-anak soleh (Robbi habli minassolihin). 


Selama bertowaf dalam hati selain zikir dan doa di atas, dalam hati menjerit fokus dalam doa memohon pada-Nya. Sebagaimana target yang sudah dibicarakan dengan suami, bahwa dalam towaf kali ini kami ingin sampai memegang kabah. 


Selama memutar towaf ada yang memberitahu pula. Jika ingin memegang kabah, bergeraklah seperti obat nyamuk bakar, memutar mengecil je arah tengah. Tak disangka dan ini memang jalan Alloh, saya dan suami bisa terus bergerak ke arah kabah. Alloh memberi jalan masuk di sela desakan umat manusia beragam postur tubuh. Dengan kehendak-Nya pula, di akhir putaran keempat dapat memegang kabah. Subhanallah! "Ya Alloh, akhirnya kami dapat memegang kabah bukti keagungan-Mu, yang diimpikan selama ini". Doa kami dikabul, melangit, anugrah tiada tara. 


Tangis bahagia pecah bersama suami disela desakan jamaah. Kami kembali terus memutar, pelan-pelan melebar kembali hingga usai putaran ketujuh. Melebar sambil memutar menuju pinggir, merapat kembali ke pintu Alfath Gate sesuai janji semula. Sungguh, hari itu Alloh telah memberikan pengalaman berharga luar biasa. Boleh jadi ini adalah towaf terakhir di selah kehidupan kami. Wallihualam. 


Rawaf Mina, 20 Juni 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!