MABIT DI MUZDALIFAH
MABIT DI MUZDALIFAH
Sejak pelatihan manasik ustad pemberi materi beberapa kali sudah mengungkapkan bahwa nanti para jamaah akan mabit di hotel berbintang dengan kelakar hotel seribu bintang. Naah, seperti sekarang inilah yang kami rasakan ketika baru saja menempati karpet di hamparan pasir terbuka, area lapangan luas dengan hamparan berjuta umat manusia dominan warna putih ada yang duduk, salat, atau rebahan, bak hamparan laron kecil di antara gunung, bebatuan dan bintang dilangit sebagai tanda keagungan dan kekuasaan Alloh Swt. Kamis malam, 5 Juni 2025 pukul 22.00.
Selanjutnya, Pak Karom mengungkapkan bahwa Rosululloh menjama kosor salat magrib dan isya, dan itu dilaksanakan di Muzdalifah seperti saat ini. Pak Karom menjadi imam kami untuk salat dijama qosor tersebut. Di akhir salat Pak Karom selalu saja memberi materi. Kali ini tentang "Empat Pekerjaan di tanggal 10 Julhijjah yakni 1) lempar jumroh 2) Towaf ifadoh 3) Hadyu (memotong kambing, sapi, atau unta dan 4) Tahalul. Pak Karom menjelaskan setelah mabit (bermalam) di Muzdalifah ini, bada subuh nanti kita akan pergi ke Jamarot untuk melaksanakan lempar jumroh.
Haru, bangga, antara percaya dan tidak percaya saya ada di Muzdalifah. Beribu manusia datang di satu tempat Muzdalifah, tanpa tenda atau matras seperti di Mina atau di Arofah. Tidur dan berzikir beralaskan karpet dengan bantal menggunakan tas gendong masing-masing.
Usai subuh di Muzdalifah, saya, suami, dan rekan jamaah lain bergerak ke Jamarot. Semua jamaah haji menunggu antrean bis solawat. Demikian juga jamaah lain bergerak mengikuti antrean untuk sama-sama pergi ke Jamarot.
Lama sudah menunggu antrean bus solawat. Kabar punya kabar dari Pak Karom, ternyata ada trublel bus solawat, bus solawat tak bisa bergerak karena terjebak ribuan jamaah yang berjalan menuju Jamarot. Pada akhirnya, kami berjalan menuju Jamarot untuk melempar Jumroh bersama ribuan jamaah lain. Bismillah!
Rawaf Mina, Jumat, 13 Juni 2025

Komentar
Posting Komentar