DAMPAK MENATA ULANG RUANGAN TERHADAP MOTIVASI KINERJA
DAMPAK MENATA ULANG RUANGAN TERHADAP MOTIVASI KINERJA
Beberapa waktu lalu, ketika baru saja ada empat tendik diangkat menjadi P3K paruh waktu, salah seorang di antara mereka meminta izin pada saya untuk mengubah dan membenahi ruang guru termasuk pula ruang Tata Usaha (TU) . Saya sangat mengapresiasi, saat itu juga saya acungi jempol. Dengan mengatakan bahwa itu ide mantap dan lanjut untuk dikerjakan. Ia pun seperti gembira sekali. Lantas dibantu rekan guru dan tendik lain menata ruangan lebih rapih dan indah.
Situasi memberi apresiasi pada seseorang sekecil apapun langkah yang diberikan dipastikan akan berdampak positif baik secara fisik maupun psikis. Demikian pun jika apresiasi itu diberikan kepada murid, sudah tentu murid tersebut akan merasa dilayani dan diakui sekecil apapun kemampuan murid.
Rabu, 14 Januari 2026 adalah hari yang semakin mengesankan ketika memasuki ruang guru. Posisi meja guru, kursi, dan lemari berbeda dari posisi semula. Kursi dan meja guru semula berjejer terdiri atas empat baris menghadap pada IFP, sedangkan posisi sekarang kursi dan meja diletakkan membentuk bujur sangkar. Di tengah ruangan kosong. Satu sisi juga dikosongkan agar semua menghadap ke Papan Tulis Digital (IFP) . Posisi ruang guru seperti ini, ruangan dirasa menjadi lebih luas dan sedap dipandang mata.
Saya ingat ketika pertama datang di sekolah dan membawa surat tugas sebagai Kepala Sekolah (KS). Saat itu ruang KS terkesan sempit dan gelap. Waktu itu saya spontan berkelakar bahwa saya tidak mau ditempatkan di kamar peteng (kamar gelap). Pada akhirnya saat itu juga Bapak-Bapak guru memindahkan posisi lemari dan meja. Luar Biasa! Saya kira inilah kesan mendalam membuat semangat bekerja ketika pengakuan dan penerimaan dari warga sekolah sangat baik, dan membuat nyaman.
Demikian juga sekarang ketika ada pengakuan dan kepedulian seorang ASN dengan rekan lain pula untuk mengubah posisi ruang guru dan TU, lalu disetujui, tentunya suasana kinerja lebih semangat, lebih segar dan nyaman, relevan dengan suasana dalam ruang guru dan ruang TU yang semakin rapih dan indah.
Kurnia, Adi dan Qomaruzzaman, Bambang (2016; 23) mengungkapkan bahwa posisi meja, kursi, dan sebagainya itu, Ia sebut sebagai unsur yang tampak. Ada pun unsur yang tidak tampak adalah bagaimana setiap individu memiliki pemahaman mendalam tentang semua yang tampak itu yang akan memengaruhi perilaku selama di sekolah. Termasuk bagaimana cara mengajar, memotivasi diri dan orang lain, berhubungan antarekan atau atasan, atau dengan murid, dan lain-lain. Oleh karena itu dengan adanya perubahan tata letak ruangan di sekolah setidaknya berpengaruh pula terhadap motivasi kinerja dari guru dan tendik. Lebih jauh motivasi akan berdampak pula pada pembelajaran.
Salah satu hikmah mendalam dari ubahnya posisi tempat duduk guru, yakni hikmah penghargaan dan saling memahami di antara rekan kerja. Inilah nilai bahwa jika unsur yang tampak ada perubahan, perilaku yang ada pada tempat, ruang, dan waktu itu pun berubah pula. Yang paling utama perubahan itu diharapkan terjadi ke arah yang lebih positif atau budaya positif. Semoga!
Sumber bacaan:
Kurnia, Adi dan Qomaruzzaman, Bambang. 2016. Membangun Budaya Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar