MENANAMKAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB KEPADA MURID

MENANAMKAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB KEPADA MURID


Ibarat bertanam pohon. Bagus pemeliharaanya akan bagus pula hasilnya. Demikian pun tingkah laku seseorang. Baik perangai dan belajarnya insyaallah akan baik pula hasil dari perangai dan belajarnya. 

Ilustrasi di atas saya terapkan pada ketika murid selalu berbuat dan belajar dengan baik, misal selalu taat aturan sekolah dan mengerjakan tugas secara baik dan tuntas dipastikan hasil dari rapornya akan baik pula. Sebaliknya jika murid sulit belajar dan malas terhadap tugas, di akhir tahun atau semester akan menjadi masalah guru atau murid itu sendiri. 

Saat pembagian rapor semester kemarin, hasil rapat guru dan menjadi kesepakatan dari awal semester, dikemukakan bahwa murid yang tidak selesai mengerjakan Tantangan Membaca Kepala sekolah (TMKS), rapor mereka sepakat untuk tidak dibagikan. Akhirnya ada beberapa murid yang tidak menerima rapor. 

Bahkan ada murid peringkat 2 di kelas delapan tidak dibagikan rapornya karena  belum tuntas membaca buku atau menuntaskan tantangan, yakni membaca dan membuat review buku yang dibaca, serta membuat tulisan. 

Kasihan memang ketika mereka tidak menerima rapor. Sementara murid  lain menerima rapor, sedangkan yang belum tuntas tugas rapor ditahan. Padahal misalnya mereka masuk dua besar berprestasi di dalam kelas. 

Di sinilah ujian konsekuensi guru terhadap murid. Murid juara pun jika tidak mematuhi aturan statusnya sama dengan murid yang tidak juara ketika murid tersebut belum tuntas salah satu tugas atau melanggar aturan sekolah. Artinya, hal demikian konsekuensi juga bagi murid, siapa pun muridnya mematuhi aturan dan belajar tuntas adalah kewajiban semua murid. Setiap tindakan yang dilakukan memiliki risiko dan tanggung jawab. 

Ada beberapa langkah guru ketika mengalami dan mendapatkan murid tidak tuntas dalam mengerjakan tugas atau kurang bertanggung jawab, yakni sebagai berikut. 

Pertama, guru tetap memberi pelayanan prima dan terus memberi pemahaman dan mengarahkan bahwa semua aspek yang berhubungan dengan pembelajaran, baik kegiatan intrakulikuler, ekstrakulikuler, dan kokulikuler semua murid harus bertanggung jawab terhadap tugasnya. Misalnya, bagaimana pun tidak senangnya terhadap mata pelajaran tertentu, murid harus sabar memilih dan mengerjakan tugas. Termasuk TMBB yang tugas bulanan terdiri dari membaca satu buku, dan reviewnya, serta membuat tulisan  harus dikerakan. 

Kedua, menghibur, dan mengapresiasi sekecil  apapun tindakan murid. Saat melakukan kesalahan dan tidak mendapat rapor, guru tetap melayani dan menghibur dengan mengatakan bahwa murid itu nilai sudah bagus, tugas bisa menyusul setelah melaksanakan hari libur. 

Terakhir mengajak anak merefleksi dan mohon maaf atas tindakan yang dilakukan guru atau sekolah. Mengapresiasi, merefleksi, dan rendah hati memohon maaf pada murid adalah tindakan bermakna dan kontektual yang diperlukan saat ini. Semoga!


Bandung Barat, 8 Januari 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!