HANYA KARENA IBU

 HANYA KARENA IBU


Jumat, 16 Januari 2026  adalah hari bertepatan dengan Hari Isro Miraznya Nabi Muhammed SAW sehingga hari ini termasuk hari libur. Walau libur untuk suami kebetulan ada kegiatan Hab Depag yang pada akhirnya Beliau tak bisa libur. 

Pada situasi demikian suami tak di rumah, sudah pasti saya ingat pada Ibu, Orang tua yang tinggal sendiri di kampung. Saya bahagia manakala selagi sehat dan kuat selalu ingin menemani Ibu, walau hanya 24 jam saja. 

Hidup serasa hampa jika saat libur tidak menemani Ibu. Padahal itu juga setiap hari mesti saya menelpon Ibu. Satu kali saja Ibu tak dapat ditelepon, saya tuh pasti bertanya pada tetangga Ibu, atau minta tolong disuruh membetulkan hp Ibu. Kalau tidak habis kuota internetnya, bisa jadi data internetnya kepijit Ibu. Beginilah gaya anak manja, atau memang ceritanya selalu ingin memuliakan orang tua. 

Saya berpikir, mumpung masih ada Ibu, dan jika memang saya sedang sehat  mengapa tidak saya berkunjung padanya, satu atau dua hari. Terus terang, perjalanan tiga jam lebih Bandung-Purwakarta, untuk usia saya cukup melelahkan. Namun, satu yang saya tuju, bertemu Ibu, hilanglah rasa cape dan penat itu. 

Pukul 11.45 hampir waktu Jumatan, saya meluncur berkendara sendiri naik sepada motor. Sengaja saya ambil waktu menjelang duhur dengan harapan kendaraan di jalan saat waktu seperti ini biasanya kosong. Saya niatkan bahwa saya ingin menjama kosor waktu duhur dan asar. Alhamdulillah betul memang  situasi  di jalan, jalur padat antara Batujajar, Cimareme, Kotabaru, sampai Padalarang, sungguh lengang. Tidak lupa, sebelum pergi, saya pun memberitahu A Maman, kakak dan Bi Mumun  adik bahwa saya siap pulang menuju rumah Ibu. 

Saya selalu ingat nasihat Si Sulung, Muhamad Gardan; "Usia Mamah sudah 56 tahun, bukan usia muda lagi. Perjalanan naik motor 3 jam, harus istirahat,  satu atau dua kali!" 

"Pantesan A, jika ada belokan terkadang Mamah hampir lepas kendali sepada motor," saya mengiyakan.

Dari pembicaraan dan nasihat itulah yang selalu saya ingat. Mengirit tenaga dengan rehat sebentar, tubuh kembali segar. 

Seperti tadi, pukul 13-an saya sampai di tempat istirahat dekat mesjid besar Panglejar. Saya istirahat sambil jajan baso tahu atau syiomay. Oh, ya sambil mengeringkan jas hujan juga. Karena sejak di Padalarang hujan terus mengguyur bumi. Kurang lebih setengah jam saya istirahat, saya kembali berpacu menuju yang saya idamkan  yakni Ibu. Ibu serasa sudah diujung mata.

Selama perjalanan banyak hal yang saya alami. Saat istirahat saya ingat pada Almarhum Bapak. Ingat pada Bapak bagaimana Bapak yang sama berkedara sepeda motor dulu. Sama juga, Bapak senang jajan baso tahu. "Jika bermotor  kita bisa jajan seperti yang lain Min! " ungkap Bapak. 

Saya pun ingat, ketika Bapak menasihati jajanlah di kaki lima, biar kita lebih empati pada mereka. 

Sepeda motor terus saya pacu. Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di rumah Ibu. Sungguh bahagianya, kami saling melepas rindu. Tak lama berselang A Maman dan Bi Mumun pun datang, sembari membawa oleh-oleh. Tak lupa, gula merah aren yang saya bawa, saya bagi pada Ibu, Kakak, dan Adik. Saya menginap di rumah Ibu, besok insyaallah kembali ke Bandung. 


Purwakarta, 16 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!