KESEPAKATAN KELAS SARANA EFEKTIF PENGUATAN KARAKTER MURID
KESEPAKATAN KELAS SARANA EFEKTIF PENGUATAN KARAKTER MURID
Hampir tiap hari ada saja murid yang berbuat tidak baik dalam lingkungan sekolah. Tidak hormat pada guru, kesiangan, bolos, berkelahi, perundungan, dan sebagainya. Ibarat angin terus berhembus, satu sisi menyegarkan di sisi lain bisa menyebabkan masuk angin. Lebih jauh masuk angin tidak karena angin saja tetapi karena pola makan atau telat makan. Begitu pun karakter tidak baik pada murid, bisa saja terjadi karena kurangnya pencegahan dan pendekatan, serta cara penanganannya.
Menarik sekali ketika beberapa tahun terakhir kita mendengar istilah kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas merupakan norma atau aturan kelas yang dibuat secara bersama oleh pendidik dan murid untuk menciptakan suasana kondusif, nyaman, dan menyenangkan. Norma aturan itu dibuat berdasarkan hasil diskusi disepakati, dan diharapkan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab (komitmen bersama). Norma hasil kesepakatan dilaksanakan bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran.
Kesepakatan kelas lebih pleksibel dibanding dengan aturan sekolah yang dibuat sepihak oleh pendidik atau regulasi dari atas. Kesepakatan kelas sejatinya muncul dari hasil refleksi sehingga kesepakatan kelas bersifat kontekstual.
Unsur kesepakatan kelas biasanya meliputi aturan masalah disiplin, kekerasan, kebersihan kelas, pelaksanaan tugas pembelajaran, saling menghargai, dan lain-lain. Umpamanya, murid secara mupakat untuk selalu datang di kelas tepat waktu. Tidak ribut dan menghargai ketika ada yang berbicara di delan kelas. Berani berbicara di depan kelas, dan sebagainya.
Penulis ketika rapat awal semester telah menguatkan bahwa di minggu awal pembelajaran buatlah terlebih dahulu kesepakatan kelas. Dampingi saat mereka diskusi, niatkan dan sepakati untuk dilaksanakan, lalu tempel hasil kesepakatan di dinding kelas agar terlihat dan terbaca setiap saat.
Tak ada kegiatan tanpa tantangan. Tak ada aturan tanpa pelanggaran. Sebagaimana pun bagusnya aturan, baik dilihat dari isi atau cara membuat aturan tersebut, namun satu yang penting kita renungkan, bahwa ketika murid masih tetap melanggar aturan kesepakatan kelas seyogyanya tidak secara langsung menyalahkan pelanggar aturan. Banyak faktor penentu saat murid melanggar aturan. Ibarat masuk angin, karena angin atau pola makan, atau faktor lain.
Langkah bijak yang dilakukan dari hal di atas, mulai dari pendekatan persuasif, mengajak merefleksi mengapa melanggar aturan, serta perkuat kerja sama antara pendidik, tendik, pimpinan, orang tua, dan masyarakat. Kerja sama dengan orang tua, misalnya selama ini kita selalu tersedia grup Paguyuban Kelas. Melalui grup paguyuban ini pula kesepakatan kelas diinfokan dan dipahami bersama. Demikianlah, pendidikan dan penguatan karakter adalah proses. Keberhasilannya adalah proses itu sendiri.
Sumbet bacaan:
https://www.google.com/search?q=kesepakatan+kelas+wikipedia+indonesia&oq=kesepakatan+kelas+wiki&gs_lcrp
Komentar
Posting Komentar