MENULIS, BEBAN, DAN KEBAHAGIAAN

 MENULIS, BEBAN, DAN KEBAHAGIAAN


Telah banyak pendapat, taktik, jurus jitu, motivasi, dan sebagainya tentang menulis. Termasuk pendapat Abah Khoiri, Prof Naim, Bunda Daswatia, dan terakhir pendapat Kang Makhrus. Sajian tentang menulis yang beraneka ragam dilihat dari sudut pandang penulis, memberi kesan tersendiri, namun memang dapat saya rasakan bagaimana perumpamaan-perumpamaan itu teralami pada saat sebelum, selama, atau sesudah menulis. 

Saya pernah mengemukakan bahwa menulis itu ibarat terjebak di hutan rimba, bagaimana caranya keluar dari hutan. Yang kadang dirasa amat lucu, mengapa toh kita ingin terjebak lagi di hutan belantata tersebut. Orang suka mendaki, padahal mendaki itu cape, eh, malah ingin mendaki lagi, bahkan mendaki ke tempat yang lebih terjal. 

Lalu saya mencoba menulis harian, ketika  hari ini belum menulis jadilah beban hidup mendalam.  Padahal tidak ada yang mengejar, tidak ada pula tuntutan harus menulis. Seperti perumpamaan mengendarai sepeda motor  tidak ada yang mengejar  tetapi kita fokus ke depan, fokus pada tempat yang dituju. Yang jelas, jika belum menulis, unek-unek hati belum keluar. Pikiran terus berputar, "Mau nulis apa, saya hari ini? "

Beban menulis berikutnya, terjadi pada saat mencurahkan ide atau gagasan. Apalagi ide tersebut berupa konsep yang diimplementasikan pada kegiatan pengalaman keseharian. Seorang penulis sejatinya bisa memutar balik konsep itu dengan pengalaman di lapangan. Misalnya, baru-baru ini saya menulis tentang konsep mengubah hidup dari orang terkenal. Betul-betul saya buat adonan menulis itu lebih pas agar tulisan tidak memabukkan, ups! Tulisan memiliki ide yang bermakna, lebih jauh bermanfaat bagi orang lain. 

Beban menulis yang lain selain saat sebelum, atau selama menulis, adalah beban setelah menulis. Setelah menulis karena merasa bahwa saya menulis harus lebih bagus, otomatis tulisan saya publikasikan, dengan harapan orang lain dapat membaca atau memberi masukan dan tanggapan apa yang kita tulis. 

Beban setelah menulis, apalagi dipublikasikan adalah saya dag, dig, dug, apakah tulisan saya berterima atau tidak? Beban yang saya alami lucu juga. Minggu kemarin mohon maaf langsung saya sebut. Kang Makhrus menanyakan sumber tulisan tentang mengubah hidup. Betapa kagetnya saya. Luar biasa, saya panik. Saya langsung menjawab, bahwa sumber tulisan dari FB. Sembari dilihat dan dicari lagi, betul bahwa gagasan tersebut benar adanya. Naah, betul-betul beban, kan? Tetapi, justru inilah asyiknya menulis. 

Malam tadi, saya pun membagi tulisan tentang catatan perjalanan. Eh, lagi-lagi ada yang salah. Beruntung mungkin pembaca pertama Bu Kanjeng, membaca tulisan saya tanggal 16 kemarin bertepatan dengan dengan hari Robiul Awal. Innalillahi, saya sungguh-sungguh lupa. Tidak menyadari apa yang saya tulis. Bersyukur saya masih membuka grup, ya karena tadi, setelah publikasi tulisan, pasti menunggu balasan dari rekan pembaca. Tulisan yang salah tadi, langsung  saya edit, bahkan terus menelpon Bu Kanjeng. Luar biasa, saya ucapkan terimakasih pada Beliau. 

Beban menulis bukan beban biasa, melainkan pembelajaran mendalam (PM) yang menyenangkan. Kata Abah atau Bunda Telly yah, menulis tidak asal-asalan. Menulis harus lebih baik. Naah, di sinilah saya mesti terus belajar. 

Jika ditanya saya menulis untuk apa? Sementara saya mungkin hanya nenjawab, saya menulis untuk belajar. Target mengumpulkan tulisan untuk dibuat buku, tentu ada. Menulis bagi saya untuk mengeluarkan beban pada pikiran. Mengapa demikian? 

Setelah saya menulis, pikiran dan hati terasa plong. Namun, lagi-lagi hari berikutnya jika belum menulis, terasa ada yang tertinggal. Ya, beban lagi. Dengan begitu, saya cari ide, membaca, merenung sejenak lanjut menulis. 

Seperti sekarang, baru saja saya datang dari Ibu di Purwakarta sebagaimana tulisan malam tadi. Tadi pagi pun saya menulis pula di rumah Ibu, tapi belum selesai. Lalu sambil melepas lelah, saya lanjutkan tulisan. Hingga tulisan saya tutup dengan pantun. 

Bintang di langit beribu-ribu

Gadis tersenyum  aduhai manis 

Sungguh bahagia bertemu Ibu

Gembira pula, bisa menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!