MENGGIRING MURID UNTUK TETAP BERADAB

MENGGIRING MURID UNTUK TETAP BERADAB


Beberapa waktu lalu saya memerhatikan tanah di pekarangan rumah. Saya refleksikan bagaimana ketika tanah menerima segala macam sampah, kotoran, dan sejenisnya, namun beberapa saat kemudian tanah kembali pada bentuk semula bahkan istimewa bisa menjadi  obat. Tanah pun bisa menyuburkan dan menumbuhkan tanaman. Tanaman dengan berbagai jenis dan bentuk yang beragam. 

Lalu saya pun merenung ketika guru menghadapi berbagai karakter murid hingga saya mengilustrasikan tanah tersebut dengan kehidupan guru. Mampukah guru hidup seperti tanah? Artinya, guru bisa menjadi bengkel sikap murid, mendampingi, mengarahkan murid, hingga ketika murid berperilaku kurang etis mampu kembali ke sikap yang lebih etis. 

Pembahasan tentang adab atau budi pekerti tak akan ada ujungnya. Termasuk adab di satuan Pendidikan. Bagaimana sopan santun antara murid dengan murid, murid dengan pendidik dan tendik atau  murid dengan orang tua, dan masyarakat sekitar. Saya selalu mengatakan pada guru atau pada murid, jadikan saya sebagai teman, kita saling menghargai, tetapi pada saat jika saya selalu menasihati, anggap bahwa saya adalah sebagai orang tua. Orang tua yang sayang, ingin melindungi dan mengarahkan anaknya. 

Saat menjadi teman, pendidik siap menjadi tempat curhat murid. Jika murid berani curhat, yakinlah bahwa pendidik akan bisa mengarahkan murid ke arah yang lebih baik. Artinya, bahwa pendidik sejatinya memiliki jiwa relasi yang tinggi. Hubungan seperti teman murid akan lebih merasa nyaman. Pendidik melayani murid secara utuh, tidak sekadar melaksanakan kewajiban menuntaskan kurikulum. 

Selanjutnya, di antara menjadi orang tua dan teman ada saling menghargai. Pendidik bagaimana menghargai murid, murid pun bagaimana menghargai guru. Naah, di sinilah letak adab atau budi pekerti berperan. Murid tetap santun dan menghormati pendidik, sebaliknya pendidik melindungi dan menjaga lingkungan aman dan nyaman bagi murid. Umpamanya murid mengucap salam lalu mencium tangan pendidik, pendidik pun menjawab salam penuh senyum dan kehangatan. 

Peran pendidik sebagai orang tua seperti tersebut di atas lebih mengarah pada peran pendidik sebagai fasilitator. Pendidik sejatinya membimbing, menggiring   mengarahkan, menunjukkan, dan menjadi teladan bagi semua murid. 

Contoh sederhana ketika datang ke kelas menanya kabar mereka penuh ceria. Lalu jika kelas belum bersih, murid diarahkan membersihkan kelas terlebih dahulu sebelum belajar. 

Gambaran sekolah yang jauh dari kota seperti satuan pendidikan yang saya pimpin terkadang adab perilaku malu memang ada, namun tetap saja ada anak yang berperilaku tidak punya malu, lebih jauh berperilaku tidak peduli pada siapa pun. 

Dari peran pendidik dan adab yang dibahas tersebut, dapat saya simpulkan bahwa pada intinya ketika kita mengarahkan dan menggiring murid untuk tetap beradab adalah sabar dan terus menjadi teladan bagi mereka. Sabar dalam arti tidak menyerah pada keadaan, tetapi terus bergerak dengan menyerahkan usaha dan doa hanya pada-Nya. Seperti tanah, tanah dengan tunduk pada ketentuan mengembalikan unsur yang masuk ke dalam tanah menjadi tanah dan menyuburkan segala tanaman. Bisa!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran dari Kedatangan Seekor Kucing Sakit

PEK KOPER, MANEH BALIK TIHEULA NYA!